Pages

Talking To The World Through Poetry - Since July 2006

PUTRA DAERAH DAN KOTA KELAHIRAN

| Aug 1, 2007


Affandi Syahid terkejut, ketika melihat pemandangan gersang di kota kelahirannya, dia terpana dan kecewa melihat telah sirnanya pohon-pohon akasia disekitar jalan raya kota, seturunnya dia dari bis yang mengantakannya dari Bandung, tempat dia merantau sebagai seorang mahasiswa, gelar yang menjadi kebanggaan bagi para anak muda tapi itu tidak terlalu berlaku baginya.

Bis jurusan Bandung Cikarang pun kembali berjalan dan meninggalkan Affandi Syahid ditengah lingkungan yang menjadi tempat yang begitu asing baginya, tidak ada lagi pohon-pohon yang rindang di tengah kota, tidak ada lagi kesejukan seperti yang dia rasakan dulu dikota kelahirannya itu, yang tertinggal hanyalah sesaknya pertokoan dan para pedagang kaki lima yang memadati setiap tepian jalan.

“Inikah kotaku? Seperti inikah keadaan kota kelahiranku sekarang?” Usiknya dalam hati.

Siang itu cuaca sedang panasnya, dengan terik matahari yang dengan gagah menyengat para penghuni bumi, terutama para penghuni kota itu, kota kelahiran Affandi Syahid. Sekujur tubuh Affandi Syahid telah basah akan cucuran keringat, tanpa membuang banyak waktu dia bergegas pergi berjalan kaki dari tempat pemberhentian bis di dekat perempatan kota. Affandi Syahid berjalan dengan tergesa-gesa menuju terminal kendaraan umum yang akan membawa ke kampung halamannya dari pusat kota.

Di terminal, Affandi Syahid tidak diberi kesempatan sedikitpun untuk beristirahat. Para calo kendaraan umum dan para kondektur memburu dan menawarinya untuk naik kedalam mobil mereka, kondisi itu bukan hal yang asing lagi bagi Affandi Syahid, karena semua itu sudah dia alami bertahun-tahun, terutama ketika masih duduk di Sekolah Menegah Atas (SMA), maka tanpa basa basi dia menuruti permintaan seorang kondektur muda yang berumur setara dengan umurnya sendiri, naiklah Affandi Syahid kedalam mobil angkutan yang mesinnya sudah lama di hidupkan tersebut.

Affandi Syahid bukan penumpang pertama di dalam mobil bercatkan warna merah tersebut, didalamnya sudah sesak dipenuhi para penumpang lainnya, dari mulai anak-anak sekolah, para buruh pabrik sampai orang-orang yang dia tidak tahu maksud dan tujuannya. Hanya mereka yang tahu, tidak dan bukan siapapun, kecuali mereka dari tuhan.

Anak sekolahan yang berseragam putih abu yang berada di samping tempat duduknya mengingatkan dia kemasa dimana dia dan seragam sekolahnya dimasa lalu, maap sekitar delapan bulan yang lalu, karena Affandi Syahid belum lama menjadi seorang mahasiswa, dan belum cukup lama meninggalkan bangku sekolahan yang tidak memberi kesempatan untuk berkreasi dan berpendapat itu, semuanya masih dibawah keotoriteran para guru dan kepala sekolah yang layaknya penguasa yang memegang penuh segala hal di sekolahan.

Berbeda dengan apa yang Affandi Syahid alami dibangku universitasnya yang memberi kebebasan untuk berargumen, tapi namanya kebebasan tentunya ada batasan-batasan yang harus diperhatikan, dan Affandi Syahid tahu akan hal itu. Namun, setidaknya hal itu telah membuka alam pikirannya dan lebih terbuka lagi untuk melihat realita yang ada, dan kali ini yang dia saksikan adalah kebobrokan di kota kelahirannya yang dipimpin oleh penguasa-penguasa ketamakan yang lebih senang mengurus diri sendiri daripada masyarakatnya, padahal pimpinan tersebut adalah putra daerah pertama yang memimpin kota yang terkenal dengan pertaniannya tersebut, putra daerah.

Sebelumnya kota kelahiran Affandi Syahid selalu dipimpin oleh orang-orang dari luar, tapi yang dirasakan, orang-orang dari luar itu lebih baik daripada putra daerah sendiri seperti yang sekarang memimpin.

Mobil angkutan umum telah penuh dengan penumpangnya, para calo dan kondekturpun gembira calo-calo terminal yang hidup sebagai parasit yang menggerogoti kantong-kantong para sopir terminal. Budaya parasit yang tidak hanya ada di terminal tapi juga seluruh pelosok dinegeri ini, kecuali di gedung rakyat yang lebih nyaman dari terminal, disana tidak ada pengacau dan suasananya sangat begitu damai, sehingga orang-orang didalamnya dapat tertidur dengan pulas tanpa beban yang menghantui mimpi-mimpi mereka yang tidak ada habisnya. Affandi Syahid duduk di belakang sang sopir yang umurnya tidak jauh berbeda dengan bapaknya sendiri.

Dengan posisi duduk seperti itu, Affandi Syahid dapat dengan leluasa melihat pemandangan kiri kanan jalanan didepannya. Mobil angkutan umum pun melaju meninggalkan terminal mulai menapaki jalan menuju rumah Affandi Syahid. Di dalam perjalanan Affandi Syahid mendapatkan berbagai bentuk ketidak nyamanan.

Pertama, ketenangannya terusik dengan guncangan-guncangan di dalam mobil yang diakibatkan oleh banyaknya kubangan dan tidak mulusnya permukaan jalan yang dilalui, tambalan-tambalan aspal yang ditata seenaknya membuat permukaan jalan bergelombang.

Kedua, hilangnya sebagian pohon-pohon rindang di sepanjang jalan yang mengakibatkan hawa panas dengan gagahnya menusuk kedalam mobil, gerah tentu saja di alami oleh Affandi Syahid dan penumpang-penumpang lainnya.

“Gila!! Kok tambah hancur saja nih jalan,” gumannya pelan kepada seorang lelaki tua yang duduk disampingnya.

“Iya, Bupati dan pemerintah kota kita tidak memperhatikan kondisi ini, dia lebih suka dengan menata daerah tempat tinggalnya sendiri, lihat saja di daerah sekitar rumahnya anda tidak akan mendapatkan jalan yang serusak ini!” Jawab lelaki tua berkacamata tersebut tanpa ragu.

“Benar pak, dia lebih senang menata kampungnya sendiri dan terlalu banyak bermain dengan proyek yang mubadzir,” timpal Affandi Syahid tidak mau kalah mengometari Bupati di kota kelahirannya, Bupati yang tadinya dibanggakan oleh masyarakat karena merupakan putra daerah pertama yang memimpin kota yang dilengkapi dengan daerah pegunungan dan pantai tersebut, kota kelahiran Affandi Syahid.

Mobilpun terus melaju, sekali-sekali berhenti karena ada penumpang yang hendak turun. Affandi Syahid dan lelaki tua berkacamata disampingnya masih membisu mengamati pemandangan yang mereka lalui. Perjalanan Affandi Syahid menuju kampungnya mencapai jarak 20 Km dari pusat kota, sepanjang jalan tampak di kiri kanan daerah pesawahan yang telah gundul sehabis dipanen, setelahnya baru tampak perkampungan yang tidak begitu panjang dan tidak lama tampak lagi daerah pesawahan, demikianlah seterusnya sampai mobil angkutan umum tersebut sampai di terminal kampung halamannya.

“kiri-kiri…” Lelaki tua berkacamata disamping Affandi Syahid berteriak memberi aba-aba kepada sopir, dan mobil pun berhenti. Lelaki tua berkacamata turun dari mobil disebuah kampung dan tak lupa menyapa terlebih dahulu kepada Affandi Syahid, mobil kembali berjalan setelah lelaki tua berkacamata turun dan berlalu dari pengamatan Affandi Syahid.

Satu jam berlalu, mobil angkutan umum berhenti di terminal kampung halaman Affandi Syahid. Setibanya di sana Affandi Syahid kembali diburu, namun yang kali ini bukan oleh para calo ataupun preman terminal, melainkan tukang ojek motor dan juga tukang becak yang menawarinya untuk diantarkan ke rumahnya, rumah Affandi Syahid yang letaknya tidak jauh dari terminal tua tersebut. Banyak dari para tukang ojek motor dan becak yang tidak ragu memanggil-manggil namanya, mereka masih mengenali Affandi Syahid yang merupakan langganan mereka ketika Affandi Syahid masih berseragam sekolah.

“Naik becak saya, deh…!!” katanya saat itu juga, dan dengan tergesa-gesa dia persilahkan seorang tukang becak untuk membawanya menuju kerumahnya.


Deni Andriana
Karawang, 14 April 2004