Pages

Talking To The World Through Poetry - Since July 2006

SUARA- SUARA PENDERITAAN

| Jul 30, 2007

Suatu hari, di sebuah kampung diadakan acara bakti sosial. Diketahui, kampung berpenduduk 150 jiwa tersebut sedang dilanda kelaparan, pasca terjadinya bencana longsor dua bulan sebelumnya. Cibatu adalah nama kampung tersebut.

Kurangnya bahan makanan, terutama makanan yang bergizi dan memenuhi standar kesehatan, menyebabkan sebuah lembaga kesehatan masyarakat dari kota menyelenggarakan acara makan bersama.

Dalam acara yang disambut hangat oleh para penduduk tersebut, dihadiri pula oleh para pejabat aparatur pemerintah kota (pemda) yang dipimpin langsung oleh bapak bupatinya sendiri.

Dalam kegiatan amal tersebut direncanakan akan adanya acara makan bersama antara para pejabat dengan para penduduk Cibatu.

Panitia acara yang berasal dari LKM Sari Alam (Lembaga Kesehatan Masyarakat), memberikan tema : “Kepedulian Pemerintah Terhadap Rakyat Miskin” pada acara yang dananya memang bersumber dari pemerintah kota itu, seperti yang diungkapkan oleh Bapak Bupati ketika memberikan sambutannya pada saat pembukaan acara tersebut, menurutnya acara sosial tersebut adalah sebagai upaya pemerintah untuk menyejahterakan masyarakat yang kurang mampu dan sekaligus menyantuni fakir miskin yang berada di kampung Cibatu.

Acara yang dilangsungkan sehari penuh tersebut, selain diisi dengan acara makan bersama, juga akan dilanjutkan dengan pembagian bahan makanan, baju-baju bekas serta keperluan rumah tangga lainnya kepada penduduk Cibatu oleh pihak panitia dan pemerintah kota.

“Makan…..makan…..”

Begitulah suara riuh penduduk Cibatu menyambut acara makan bersama tersebut. Sepintas suara-suara riuh tersebut kedengarannya memang biasa, namun sangat luar biasa jika yang berteriak adalah sekumpulan manusia yang baru melihat makanan enak dan bergizi, setelah sekian lama menderita kelaparan akibat kurangnya bahan makanan di kampung dengan pesona alam yang menyejukan mata tersebut.

Cibatu merupakan sebuah perkampungan yang letaknya berada di kaki gunung, suasana kampung yang sangat asri dan alami dengan gemercikan suara air sungai yang jernih mengalir damai melintasi sisi-sisi rumah penduduknya. Namun, karena letaknya yang jauh dari pusat kota, menyebabkan bahan makanan sulit untuk di dapat oleh para penduduk. Penduduk hanya hidup bergantung pada karunia alam yang terkadang bersikap tidak ramah kepada mereka, seperti halnya bencana longsor yang telah merusak lahan pertanian dan peternakan- peternakan mereka. Bencana longsor tersebut, diketahui sebagai akibat dari perbuatan-perbuatan orang kota, yang tanpa dosa mengeksploitasi dan menebang pohon-pohon di hutan yang berada disekitar kampung mereka, sehingga mengakibatkan banyaknya hutan yang gundul dan ketika musim hujan tiba, tanah-tanah pegunungan mejadi longsor terkikis derasnya air hujan yang sebetulnya dapat di tahan oleh pohon-pohon di sekitar hutan tersebut.

Acara makan bersama, di laksanakan di rumah salah satu penduduk. Dengan halamannya yang cukup luas, maka tempatnya sangat cocok karena sanggup untuk menampung penduduk Cibatu dan para tamu undangan dari pemerintah kota yang rencananya datang secara rombongan mengenakan bis Pemda.

“Kami persilahkan Bapak Bupati serta Bapak dan Ibu dari Pemda, untuk menikmati lebih dulu hidangan yang telah disediakan!” Ucap pembawa acara menghangatkan suasana dimana acara makan bersama hendak dimulai.

Dimeja hidangan tampak berbagai menu makanan yang berjejer rapi mengikuti rangkaian meja, dari mulai lauk-pauk, sayur-sayuran hingga buah-buahan segar menjadi pemandangan indah yang membuat para penduduk merasa tidak nyaman menyaksikannya. Pada waktu itu, para penduduk harus menahan dulu dahaga yang dirasakan dan menunggu tibanya giliran mereka untuk menikmati hidangan tersebut, setelah Bapak Bupati dan aparatur pemda selesai menikmati makannya.

”Hai…kami kapan makannya??” Celetuk salah seorang penduduk dari kerumunan penduduk lainnya, tidak diketahui dari sebelah mana suara tersebut berasal, akibat suara tidak bersumber jelas tersebut, para penduduk yang berjejer rapih dipelataran rumah beralaskan tanah, mulai mengeluarkan celetukan-celetukan yang tidak jelas.

“Tenang…tenang…!! Bapak-bapak, ibu-ibu sekalian, terlebih dahulu kita beri kesempatan kepada Bapak Bupati serta Bapak dan Ibu dari Pemda untuk menikmati makannya, setelah mereka selesai baru kalian semua mendapatkan giliran”, ujar pembawa acara menimpali suara riuh penduduk.

“Saya harap semuanya bisa tertib, kita harus menghormati Bapak Bupati dan para aparatur Pemda yang telah jauh-jauh datang kesini”, tambah seorang pemimpin aparat keamanan menenangkan keadaan.

Para penduduk hanya dapat diam setia setelah mendengar ucapan pihak panitia dan aparat keamanan tersebut. Dengan penuh harapan, mereka menyaksikan Bapak Bupati dan aparatnya menikmati hidangan di meja makan yang ditata rapi didepan mereka, didepan para penduduk Cibatu.

Meja hidangan pun berubah seketika, yang tadinya ditata kecil, kini berubah menjadi lebih luas dan besar dengan makanan yang tambah banyak pula, namun menu dan kualitas makanannya jauh berbeda dengan yang dinikmati Bapak Bupati dan aparatnya.

“Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian, Kami telah menyiapkan hidangan untuk anda semua di meja ini, dan nanti pada waktunya anda semua baru boleh mengambilnya, tapi semuanya harus tertib. Sebelumnya, kita tunggu dulu sampai Bapak Bupati dan Bapak serta Ibu dari Pemda menyelesaikan makannya.” Jelas pembawa acara, sambil menunjukan meja hidangan tersebut kepada para penduduk yang mulai kelihatan lelah, tak sedikit yang mengipas-ngipaskan handuk dan kertas ketubuh mereka yang kepanasan. Mendengar ucapan pembawa acara tersebut, para penduduk mulai bergairah dan menata kembali duduknya diatas pelataran halaman rumah dengan rapi, bagaikan barisan tentara yang akan dianugerahi medali.

Waktu terus berputar, matahari mulai menyuguhkan panasnya. Bapak Bupati dan para stafnya masih bersantai-santai dimeja makan, ada yang berbincang-bincang, ada yang asyik merokok bahkan tidak sedikit yang masih menikmati hidangan, termasuk Bapak Bupati yang sibuk mencicipi buah-buahan segar yang penuh menutupi meja makannya.

Namun, suasana tenang tersebut tidak berlangsung lama, keadaan berubah menjadi kacau dengan berhamburannya para penduduk menyerbu ke meja makan tempat hidangan mereka disiapkan. Bahkan, ada pula yang berlompatan mengambil makanan di meja Bupati dan staf-stafnya. Entah siapa yang memulai, hingga suasana acara menjadi tidak terkendali walaupun pembawa acara berteriak-teriak meminta agar para penduduk kembali tertib, namun tidak ada satupun yang menghiraukannya. Para penduduk dengan sibuknya berebut dan menjarah makanan, bagaikan sekawanan harimau Afrika yang memperebutkan mangsanya.

Menyaksikan insiden penjarahan makanan oleh penduduk tersebut, Bapak Bupati dan para stafnya berlarian meninggalkan tempat mereka semula, berharap agar para penduduk yang rusuh tidak mengotori baju apalagi sampai melukai mereka. Dengan dikawal oleh aparat keamanan, satu persatu para pejabat rakyat tersebut diamankan kedalam bus.

Sedangkan, suasana disekitar meja makan tambah rusuh, meja makanan yang tadinya dihiasi dengan hidangan-hidangan kini menjadi terbalik dan tidak sedikit makanan yang tumpah ruah di lantai. Bapak Bupati dan para pejabat Pemda tanpa menghiraukan keadaan penduduk, segera meninggalkan lokasi acara dengan bus dan kembali menuju kota.

Para penduduk di halaman rumah tempat acara, berubah menjadi panik, dengan mengudaranya beberapa buah peluru yang ditembakan para aparat keamanan kemuka langit. Mendengar tembakan peringatan tersebut, para penduduk tidak ada satupun yang berani berdiri, semuanya tiarap di lantai, menyatu dengan tanah. Sedangkan, pihak keamanan masih sibuk menertibkan penduduk yang berhamburan diberbagai sudut, mereka semua dikumpulkan dipusat halaman.

”Kalian ini, sudah kami kasihani masih juga tidak tahu diri,” ujar salah seorang panitia memarahi penduduk yang telah merusak acara makan bersama tersebut.

”Memalukan, kalian telah membuat kami malu sebagai pihak panitia, bagaimana nanti tanggapan Bapak Bupati dan para staf Pemda terhadap acara ini, lihat makanan dan meja-meja itu!” Ujar ketua panitia sambil menunjuk kearah makanan dan meja-meja yang berserakan kepada para penduduk.

“Kalian pikir semua itu tidak dibeli, kami telah sediakan semua itu untuk kalian, tapi mengapa kalian sendiri yang mengacaukannya?” Tambah ketua panitia berwajah garang tersebut, seakan ingin menumpahkan semua kekesalannya.

“Kami kesini bukan untuk menjadi penonton, bukan untuk melihat pertunjukan Bupati sedang makan. Kami datang kesini karena kami diundang oleh kalian untuk makan, jadi kami tidak suka mereka memperolok-olok kami dengan jabatannya, dan asal Anda tahu perut kami ini telah lama kosong, jadi kami tidak tahan jika harus menunggu terlalu lama, dan asal Anda semua juga tahu bahwa kamilah yang membutuhkan makanan, bukan mereka, orang-orang kota yang setiap harinya makan makanan yang enak,” ujar seorang pemuda dengan keberaniannya maju kehadapan ketua panitia dan kumpulan panitia lainnya. Namun, dengan sigapnya pihak keamanan menangkap pemuda pemberani tersebut dan dengan membabi buta memukulinya dengan tongkat pengaman.

“Sudah…sudah!!” lerai salah seorang pihak panitia melerai insiden pemukulan tersebut dan mengembalikan si pemuda nekad tersebut kekumpulan penduduk lainnya.

“Berhubung acaranya sudah tidak bisa dilanjutkan lagi, maka kami minta agar saudara-saudara sekalian kembali ke rumah masing-masing dan kami akan berlaku tegas bila ada yang menentang lagi!!” Tegas pembawa acara dengan nada tingginya kepada para penduduk. Mendapatkan perlakuan seperti itu, para penduduk tidak bisa berbuat apa-apa, mereka hanya menuruti perintah sang pembawa acara.

Satu persatu para penduduk meninggalkan acara yang hanya jadi mimpi mereka dimalam hari tersebut. Dan, kini yang tertinggal disitu hanya sekumpulan panitia dan pihak keamanan beserta pemilik rumah. Namun, yang mengejutkan mereka semua adalah kehadiran seorang kakek berpakaian serba gelap dengan peci hitam yang menutupi rambut putihnya, masih berdiri ditempat itu, kumis dan jenggotnya yang berwarna putih menampakkan umurnya yang sudah tua, namun perawakannya masih kekar dengan tinggi tubuh layaknya seorang pemain basket NBA. Raut muka yang sangar dan disertai dengan tatapan mata yang tajam membuatnya kelihatan gagah dan berwibawa.

“Hai…orang tua, kenapa kamu masih berdiri disitu, apakah kamu tidak mendengar apa yang tadi kami telah perintahkan?” Tanya seorang pemimpin keamanan mengecam keberadaan sang kakek yang berdiri tegar didepannya, dan menatap tajam kearah para panitia.

“Rupanya dia tuli?!” Timpal seorang panitia acara dengan senyumnya yang mengejek.

”Jangan-jangan selain tuli, dia juga bisu. Ha… ha…” Tambah salah seorang anggota keamanan, diikuti dengan tawa seluruh panitia dan anggota keamanan lainnya.

“Aku rasa, dia telah sakit jiwa, tidak waras..” Ujar pembawa acara memanaskan suasana dan seakan tidak mau ketinggalan untuk memperolok si kakek pemberani tersebut. Kakek yang dihina malah semakin tajam menatapi orang-orang didepannya.

“Aku memang tuli, aku juga tidak mampu untuk bicara, benar apa yang kalian bilang aku sudah gila. Tapi walaupun tuli, aku masih mampu untuk mendengar jeritan-jeritan orang kelaparan yang hanya mengharapkan sesuap nasi untuk menambal derita mereka. Kalian bilang aku bisu, ya…aku memang bisu, tapi kebisuanku tidak akan aku berikan untuk orang-orang yang telah menginjak-injak harga diri orang kecil yang tidak berani bicara di depan kalian, kalian memang orang-orang hebat, sehingga mereka takut sama kalian semua, tapi itu tidak berlaku bagiku. Aku juga orang gila, tapi walaupun aku gila, aku masih punya perasaan dan bisa merasakan kesengsaraan orang kecil.” Ujar kakek tersebut dengan lantang kearah sekumpulan panitia dan aparat keamanan didepannya. Kata-katanya sudah menembus kebalik dada dan membakar darah sekumpulan orang kota tersebut.

“Diam kamu!! Hentikan dakwahmu itu, memang kamu ini siapa? berani-beraninya menceramahi kami, pergi dari sini sebelum kami usir kamu dengan paksa!!” Ujar pimpinan keamanan menghajar ucapan si kakek yang membuat mukanya memerah, bagaikan desiran ombak api yang melahap pulau bali.

“Kalian hanya anak-anak ketamakan yang tidak punya sopan santun terhadap orang tua, sekarang kalian berani bicara seperti itu, dengan pangkat-pangkat yang layaknya Tuhan yang kalian sembah dan agung-agungkan. Apakah kalian berani, masuk kedalam sarang maut dan mengorbankan seragam bahkan nyawa kalian untuk kemerdekaan bangsa ini? Tidak … kalian tentu tidak berani melakukan itu, melakukan apa yang aku berani lakukan ketika bendera merah putihku di injak-injak oleh penjajah, dan sampai sekarang aku masih berani menghadapi orang yang masih menginjak rakyat miskin yang sudah kuanggap benderaku sendiri, bendera bangsa ini. Bendera bangsa ini, kalian tahu!? Warna merah putih bendera kita adalah kesucian hati orang-orang miskin dan merah berlumuran darah rakyat kecil.” Kakek tersebut menghentikan ucapannya, seakan dia sedang larut ke alam masa lalu dimana bangsa ini sedang ditindas dan diinjak-injak kaum penjajah, kakek tersebut memandangi orang-orang didepannya yang membisu bagaikan anak burung yang sedang diajari terbang oleh induknya.

Lalu dia melanjutkan, “ingat, wahai anak-anak muda! Aku dan para leluhur kalian telah susah payah memerdekakan bangsa ini dengan darah dan air mata kami, bersyukurlah …!! Aku dan leluhur kalian tidak rela kalau kalian sebagai penerus-penerus kami, malah menjadi penjajah baru yang mengotori bumi ini dengan ambisi-ambisi pribadi kalian. Penjajah-penjajah yang kami benci dan penjajah-penjajah yang membakar masa depan kami.”

Demikian kakek tua tersebut memberikan petuahnya, setelah itu dia melangkah pergi meninggalkan kerumunan panitia dan aparat keamanan yang masih termenung, kepergian sikakek seakan tidak mereka sadari.

Kakek telah lenyap seketika dari tempat acara, entah disembunyikan oleh awan hitam, atau bumi yang menelannya yang pasti tidak ada yang tahu kemana dia pergi. Dan, yang tertinggal hanyalah sekumpulan panitia dan aparat keamanan yang tetap diam seakan petuah dari si kakek mengantarkan jiwa-jiwa mereka kealam ilusi dan membelenggunya disana. Sedangkan, isak tangis pemilik rumah tempat acara menjadi lagu penutup dari derita-derita orang-orang miskin hari itu. Orang miskin yang kelaparan, yang tidak sempat menikmati makanan yang enak dengan lidah-lidah penderitaannya.

Deni Andriana

Ciburial, Bandung - 15 Maret 2004, dilanjutkan

Tamansari, Bandung - 26 Maret dan 3 April 2004