Pages

Talking To The World Through Poetry - Since July 2006
Showing posts with label Short Story. Show all posts
Showing posts with label Short Story. Show all posts

When the Rose Bloom

| May 31, 2010

Present interest is only a single, yet it is very happy heart that Dian has been waiting for her presence.

Tree roses has flowered, the high was not able to compete with other flower trees Dian home. As interest rates and savings banks chrysolite Dian though. However, the rose tree is a charm that makes it beautiful yard that was increasingly felt cool, at least for the Dian who simply prefer different types of flowers.

He's already quite old, more than a year since the first time in the cuttings from the parent tree. But only this time in planting trees in pots measuring 30 X 30 cm was only present existence. The existence of a tree after he acknowledged interest rates result in beautiful, especially when the flowers bloom from buds.

KETIKA MAWAR ITU MEKAR

| Aug 1, 2007



Bunga yang hadir memang hanya setangkai, namun hal itu sangat membahagiakan hati Dian yang telah lama menantikan kehadirannya.


Pohon mawar itu telah berbunga, tingginya memang tidak dapat menyaingi pohon-pohon bunga lainnya dirumah Dian. Seperti bunga cempaka maupun bunga bank tabungan Dian sekalipun. Namun, pohon mawar itu adalah pesona tersendiri yang membuat halaman rumah yang memang asri itu kian terasa sejuk, minimal bagi Dian yang memang menyukai berbagai jenis bunga-bungaan.

SEBUAH DISKUSI FILSAFAT

|


Dalam ketiadaan, langit terasa sirna tertelan jiwa yang lapar. Kebenaran adalah nafas baru yang mungkin saja memang tak pernah ada.

Jamhadi, seorang pemuda yang mencintai kebebasan, duduk termenung di bawah pohon beringin tua di samping sungai desa, yang sore itu tampak gemercik mengangkat muramnya alam. Airnya masih jernih terlindung dari polusi kota. Daun-daun pohon beringin berjatuhan menerpa Jamhadi yang masih diam membisu.

Domba-domba terlatih, berlomba menuai rumput yang hijau menyemaikan angkasa. Tidak ada perang, kedamaian tampak diantara mereka. Berbagi suka, karena sang rumput pun tak pernah risau di jamahi.

“Selamat sore Nak!”

“Sore Nek!” Jamhadi balik menyapa kehadiran seorang nenek di sampingnya.

Langit sore tampak sayu memberikan sinar hangatnya. Bumi masih berputar pada porosnya dan bulan masih menjadi planet yang setia mengintari bumi.

“Dari mana, Nek?”

“Dari dasar surga, Nak!” jawab Nenek dengan tatapan hangatnya.

“Apa kabar di surga, Nek?”

“Surga baik-baik saja, disana orang-orang sedang mencari pemimpin baru.”

“Bukankah pemilihannya sudah selesai, Nek?”

“Ya kamu benar, tapi para penguasa disana tak akan pernah puas, Nak!” Nenek memandang jauh ke langit biru.

“Sudah berapa domba-dombamu beranak?”

“Baru satu Nek, mereka semuanya pemalas tak pernah memikirkan tuannya.”

“Oh, kalau begitu apakah ada yang salah, Nak?”

“Maksud Nenek?!”

“Apa metode pemeliharaannya yang salah?”

“Saya rasa semuanya telah dijalankan berdasarkan prosedur yang ada.” Jawab Jamhadi ikut memandang jauh ke kedalaman langit.

“Prosedur yang mana yang kau pakai, Nak?”

“Saya memakai prosedur seperti yang telah di pakai oleh pendahulu-pendahulu saya, Nek.”

“Pantas, kalau begitu.” Guman Nenek melepaskan pandangnya dari muka langit, dan langit pun kecewa merasa dicampakan. “Kamu seharusnya membuat metode baru, Nak! Jaman sudah berubah, jangan pakai prosedur yang telah usang.”

“Emangnya sekarang ada yang baru, Nek?”

“Ya tentu saja! Di surga sana sudah lama di jalankan. Domba-dombanya pada gemuk dan beranak banyak, dan tuan-tuannya pun menjadi senang dan makmur.”

“Seperi apa Nek?”

“Kamu jangan banyak bertanya! Cari tahulah sendiri, dan ingat prosedur yang ada di langit tak semuanya bisa dijalankan di bumi, aku tidak bisa menjanjikannya”

“Boleh saya bertanya lagi Nek?”

“Boleh, tapi jangan pernah kamu tanyakan tentang sesuatu yang telah ada, tanyakanlah yang belum pernah ada!”

“Baiklah Nek” Jawab Jamhadi menjatuhkan pandangnya ke pangkuan bumi.

“Nek? Apakah Ilmu pengetahuan juga berlaku di surga?”

“Tentu saja, tapi prakteknya jauh berbeda dengan di Bumi”

“Menurut kamu sendiri apa itu ilmu pengetahuan, Nak?” Nenek balik bertanya, layaknya mentari yang terbit dari barat dan tenggelam di upuk timur.

“Ilmu pengetahuan adalah suatu pemahaman yang telah teruji kebenarannya” jawab Jamhadi menerawang.

“Oh, begitu toh. Kalau begitu apa itu kebenaran, Nak? Apakah bersifat mutlak?”

“Kebenaran adalah keyakinan dan keyakinan adalah kata hati. Kebenaran hanya bentuk dari pemahaman manusia, dan kebenaran bukanlah material yang dapat dilihat secara nyata,” Jamhadi berhenti dan merenung sesaat, lalu melanjutkan. “Kebenaran bersifat mutlak, berarti kebenaran itu tidak dapat lagi diganggu gugat. Dan Mutlak sendiri bagi saya adalah sesuatu yang benar-benar pasti. Mutlak dan tidaknya tergantung dari sisi dan segi mana manusia itu meyakininya, dalam arti kebenaran itu bersifat mutlak bila tidak ada lagi suatu pemahaman ataupun teori yang mampu untuk membantahnya dan memberikan fakta secara komperenship dan telah teruji secara empiris. Jadi kebenaran itu tidak bersifat mutlak karena bisa saja berubah, tergantung ada tidaknya suatu teori yang mampu membantahnya.” Jamhadi akhirnya mampu menyelesaikan argumennya dan dia merasa puas.

“Kamu bilang kebenaran adalah keyakinan dan keyakinan adalah kata hati. Berarti bisa dibilang bahwa keyakinanmu tidaklah teguh karena dapat saja berubah tergantung dengan ada dan tidaknya pemahaman baru yang membantah keyakinanmu, benarkah?” Nenek kembali bertanya dan membuat dahi Jamhadi berkerut.

“Saya yakin dengan kebenaran yang saat ini saya junjung. Dan kalaupun ada pemahaman baru yang menentang kebenaran yang saya yakini, maka saya tidak akan langsung menerima begitu saja, Nek! Saya punya pemahaman tersendiri.” Jawab Jamhadi mengebu-gebu.

“Apa agamamu sekarang Nak?” Nenek bertanya dan kembali melepaskan pandangnya, namun kali ini kedalaman sungailah yang menjadi tujuannya.

“Dulu agama saya adalah Bumi, lalu setelah saya tahu Bumi sudah sangat kotor dengan dosa-dosa manusia, maka saya tidak yakin dengannya. Sesuai dengan berjalannya waktu, saya sempat beragamakan Lautan, dimana ke dalamannya adalah misteri tak terjawab. Namun, setelah saya mendapat jawaban atas kedalamannya seiring dengan semakin canggihnya teknologi yang diciptakan manusia dan seiring dengan semakin di cemarinya kehidupan di sana, maka lautan pun saya tinggalkan. Matahari dan rembulan pun sempat menjadi cermin hidup saya namun jaraknya tidaklah cukup lama, karena senja dan fajar membuat saya tak yakin. Hingga saat ini saya masih percaya bahwa kekuasaan Tuhan adalah diatas langit sana Nek!”

“Seberapa jauh kamu meyakininya Nak?”

“Sejauh hati saya tak dapat menjawab jarak dan jauhnya” Jawab Jamhadi hati-hati.

“Nek, perasaan dari tadi kok malah Nenek yang bertanya? Bukannya saya yang harus bertanya kepada Nenek?!”

“Tidak masalah Nak! Tidak ada yang paling benar diantara kita, hanya waktu dan pengalamanlah yang mungkin membedakannya.”

“Nek, bicara soal agama dan keyakinan, apakah kita boleh mempertentangkan kebenarannya?” Jamhadi balik menghakimi Nenek dengan pertanyaannya.

Langit semakin teduh menaungi bumi, daun-daun diam kehabisan masanya untuk mencumbui bumi. Sungai tetap gemercik menghangatkan suasana sore itu. Domba-domba terlatih bertiduran diatas rumput hijau, seakan menyapa memberikan simpati dan rasa syukurnya.

“Jawabannya adalah boleh, menyoal dalam hal ini berarti mempertanyakan dan artinya suatu kebenaran belum berarti suatu hal yang sangat sakral. Bila kita terlalu meyakini kebenaran suatu agama tanpa mempertanyakannya, berarti disini kita telah menganggap bahwa agama itu adalah Tuhan, sedangkan pada kenyataannya agama merupakan suatu pedoman hidup yang di ajarkan dan berasal dari Tuhan dan diberikan sebagai jalan bagi manusia untuk mencari jati diri Tuhan.” Jawab Nenek tampak berpengalaman.

“Tapi Nek, apa mampat lainnya?” Jamhadi belum begitu puas.

“Semakin kita mempertanyakan kebenaran suatu agama, maka kita akan semakin tahu inti dari kebenaran tersebut, dan bila kebenaran tersebut bisa dibantah maka kebenaran agama yang kita pertanyakan itu akan jatuh dengan sendirinya, dan berarti agama tersebut bukanlah agama yang benar. Sebaliknya, jika kebenaran suatu agama masih kuat dan bertahan setelah kita pertanyakan dan pertentangkan kebenarannya, maka agama tersebut memang benar-benar pasti akan kebenarannya.” Nenek menyudahi jawabannya dan mengeluarkan bunyi batuk kecil dari balik tenggorokannya yang sudah berkarat termakan usia.

“Nek, Saya belum begitu paham dengan agama, apa semua manusia itu perlu beragama dan apa mampaatnya?” Tanya Jamhadi dangkal dan Nenek pun dengan sabar menjawab.

“Manusia perlu beragama supaya mempunyai pedoman dan tuntunan dalam hidupnya, Nak! Karena pada dasarnya agama itu sendiri merupakan suatu pedoman yang akan membawa kita kearah yang lebih baik, dalam hal ini bukan hanya arah di dunia melainkan juga di atas langit nanti, akhirat.”

“Bagaimana dengan manusia yang tidak beragama, Nek?”

“Sebenarnya tidak ada satu pun manusia yang tidak beragama, kamu perlu tahu bahwa agama adalah keyakinan dan semua manusia yang sehat itu pastilah mempunyai keyakinan. Karena keyakinan itu berkaitan erat dengan perasaan dan akal. Kalau manusia yang tidak berakal dan berperasaan, berarti dia tidak sehat atau kita kategorikan manusia yang gila dan sarafnya terganggu. Yang menjadi soal disini adalah tentang ajaran agama dan keyakinan mana yang mereka pakai, karena itulah pada dasarnya yang membedakan manusia yang satu dan yang lainnya, Tuhan menciptakan beragam jiwa dengan hati dan perasaan yang berbeda di dalamnya.”

“Tapi, saya lihat tidak semua yang beragama itu mendapatkan tuntunan dalam hidupnya, Nek?”

“Manusia yang bergama itu terbagi lagi menjadi tiga golongan, yang pertama adalah manusia yang beragama dan menjalankan ajaran agamanya dengan sepenuh hati. Yang kedua adalah manusia yang menjalankan ajaran agamanya dengan serta merta, dalam artian dia juga menjalankan hal lain di luar ajaran agamanya dan manusia yang satu ini sering disebut sebagai manusia munafik. Dan yang ketiga adalah manusia yang hanya menjadikan ajaran agamanya sebagai topeng dan atribut identitas semata, tanpa menjalankannya. Mengenai golongan yang ketiga ini, keberadaannya jauh lebih hina dan kotor di banding dua golongan yang tadi disebut, karena golongan yang ketiga ini telah mengotori keyakinannya sendiri dan mencemarkan suatu ajaran agama yang dianutnya”. Nenek meyudahi pembicaraannya dan kembali memandang jauh ke muka langit yang sudah tampak gelap.

Jamhadi terbangun dari mimpinya, dia masih berada di bawah pohon beringin tua di tepian sungai yang airnya sudah berubah warna menjadi coklat kekuning-kuningan, sampah plastik dan bau tidak sedap tampak dari permukaannya. Dia lihat kesekelilingnya, dia dapati domba-domba terlatihnya mati terlantar diatas padang rumput yang mengering, tidak ada lagi warna hijau yang menghampar, yang ada adalah bangunan megah dimana-mana, membuat bumi tidak bermahkota lagi. Yang tertinggal hanyalah pohon beringin tua yang menjadi tempat Jamhadi berlindung dari terik mentari hingga rembulan menyinari kesendiriannya.

Deni Andriana
Tamansari, Bandung - 10 Oktober 2004

LAYANG-LAYANG TERBANG TINGGI

|


“Din, makan belum nak?”

“Sudah, Mak!”

“Jangan lupa, sebentar lagi adzan, bersiaplah pergi mengaji, Din!”

“Iya Mak sebentar, lagi tanggung nih !”

Didin tertekun diatas balai dalam rumahnya yang beralaskan tanah. Rumah atau biasa disebut gubuk, tapi rumah ya tetap rumah dan gubuk tetap gubuk, apapun namanya, yang pasti tempat itu adalah tempat tinggal Didin dan kedua orang tuanya.

Dengan luas yang tidak selebar lapangan sepak bola dan tidaklah sepanjang aliran sungai Nil, rumah Didin hanya bisa menampung sebanyak-banyaknya lima orang awak. Itupun adalah sisa dari perabotan seadanya yang terdapat di dalam sang rumah. Dengan alat penerangan lampu minyak yang sudah kian meredup keluarga kecil itu bersiap menjelang malam.

Sebuah layang-layang berada di atas pangkuannya, layang-layang yang di buatkan oleh bapaknya sendiri. Mainan sederhana itu cukup membuat Didin merasakan masa bermainnya.

Umurnya masih lebih muda dari umur reformasi negeri ini. Didin menjelang malam itu baru menginjak umur enam tahun. Didin Lahir tahun 1998 saat bergulirnya era reformasi. Layang-layang mungil dengan bentuk menyerupai ikan pari itu adalah hadiah ulang tahunnya, hadiah yang sederhana namun cukup membuatnya gembira.

“Mak, Didin ingin main layang-layang, nanti temanin ya!”

“Sudah malam Din, Mak bilang tadi kan suruh siap-siap untuk ngaji, kok malah ngebandel sich?!”

“Iya, Didin tahu itu, maennya besok, Mak temanin ya!”

“Iya, ntar Mak bilang sama Bapakmu!”

“Emangnya Bapak kemana sich Mak? Kok belum pulang?”

“Bapakmu masih di sawah, paling sebelum adzan nanti, bapak pulang. Nah, sekarang cepat kamu berangkat ke Mesjid, nanti kalau Bapak pulang dan masih lihat kamu di rumah, pasti Bapak akan marah, ayo cepat bergegas!”

“Iya deh!”

Didin bergegas mengambil sarung dan pecinya, dan segera pamitan berangkat ke mesjid yang terletak tidak jauh dari rumahnya itu.
****

Pagi begitu cerah, burung-burung sawah bertebaran di angkasa. Didin terbangun dari tidurnya. Dia lihat di samping kanan, Bapaknya masih tertidur dengan pulas. Disamping kiri, dia tidak mendapatkan Emaknya. Suara ribut dari arah dapur membuatnya yakin bahwa Emaknya berada disana. Seperti biasanya, sehabis shalat subuh Bapak langsung tidur lagi, karena paginya Bapak mesti bersiap untuk pergi ke sawah. Sedangkan, Emak dari Subuh sudah bekerja di dapur menyiapkan sarapan buat Bapak dan juga Didin, selain itu tentunya Emak juga menyiapkan Nasi uduk dan alakadarnya yang hendak di jualnya di sekolah dasar yang berada di kampungnya itu. Usaha kecil-kecilan, tapi mampu membuat mereka bertahan di tengah kerasnya kehidupan dewasa ini, yang segalanya menuntut uang dan uang, tidak ada uang maka ruang akan terancam.

“Pak, nanti sore pulang cepat ya! Temanin Didin maen layangan!”

“Din, Bapak tidak bisa pulang cepat, pekerjaan di sawah masih banyak,” Jawab Bapak.

“Didin maennya sama Emak aja, ya!” Tambah Bapak yang tidak ingin mengecewakan Didin.

“Emak juga kayaknya tidak bisa, Din! Emak harus ke rumah Bu Lurah, mau nyuci baju,” Jawab Emak hati-hati berusaha untuk tidak melukai perasaan Didin.

“Ya udah, Didin maen sendiri saja kalau begitu.” Didin tampak kecewa.

“Didin sayang, bukannya Bapak dan Emak tidak ingin menemani kamu maen..” Ujar Bapak mencoba memberi pengertian.

“Iya, Didin ngerti.” Jawab Didin.

“Anak baik, nanti maennya jangan jauh-jauh ya! Sebelum Magrib harus ada dirumah!” Emak memberi nasehatnya.

“Siap!” Didin tampak mengerti.

Mentari terus naik menggagahi bumi, perbincangan pun usai seiring dengan selesainya makan pagi mereka. Bapak seperti biasa pergi menuju sawahnya, dan Emak dengan menggendong sekeranjang nasi uduk, berlalu menuju sekolah untuk berjualan. Didin tertinggal sendiri di rumah. Seperti biasa, tidak ada yang dikeluhkannya. Yang berbeda, pagi itu Didin tampak manja, dia minta di bawakan burung sawah pada Bapak dan minta agar Emak nanti malam memasak burung itu untuknya.
***

Lapangan, sore itu tampak sepi, tidak terlihat ada anak yang bermain. Angin bertiup dengan lemahnya menghujani alam, dan Didin berada ditengah semua itu. Dengan layang-layang kesayangannya, Didin bermain disana.

Tidak seperti biasanya, lapangan yang sering di gunakan sebagai sarana bermain sepak bola itu begitu sepinya. Hal itu tidak lain karena para pemuda yang biasanya berdatangan untuk bermain bola sedang di sibukan dengan sebuah acara dangdutan yang di selenggarakan di pekarangan kantor kelurahan, acara untuk merayakan kawinan anak bungsu Pak lurah. Tidak salah kalau semua pemuda dan pemudi terjun membantu dalam acara tersebut, karena memang wibawa dan kekuasaan Pak lurah bukan alasan untuk mereka semua tidak membantunya.

Walaupun sepi dan tidak ada orang yang menemaninya, Didin tetap bersemangat untuk menerbangkan layang-layangnya.

“Angin, datanglah yang kencang!!” Suara atau lebih layak di sebut teriakan Didin membuat gema tersendiri di tengah lapangan itu.

“Angin….” Didin berlari-lari membawa layang-layangnya. Namun belum dapat juga dia terbangkan.

“Wah, kemana sich angin? Kalo begini terus mana bisa terbang,” Didin kecewa dan duduk bersedih hati di tengah lapangan. Didin kelelahan setelah cukup lama berlari-lari berusaha menerbangkan layangannya.

“Tuhan berilah angin yang kencang!! Tuhan bantulah Didin untuk menerbangkan layang-layang! Tolonglah Tuhan!!” Didin memendam harapan yang besar agar angin bertiup dengan kencang dan bisa membuat layang-layangnya terbang. Namun, belum ada sedikitpun perubahan, angin masih bertiup dengan lemahnya, hanya membuat tubuh Didin kedinginan.

“Tuhan, Didin hitung sampai tiga nich! Kalau belum juga kasih angin yang kencang, maka Didin akan pulang ke rumah,” Didin mencoba untuk mendakwa Tuhan, dakwaan atau malah hanya sekedar sikap manjanya pada Tuhan, sikap manja seorang bocah miskin yang hanya mengharapkan karunia alam untuk membuatnya bahagia, tidak lebih karena Didin hanyalah anak buruh tani yang miskin dan anak si penjual nasi uduk yang dengan susah payah berjualan di sekolah-sekolah, mengharapkan ada anak yang belum sarapan dari rumahnya.

“Satu… Dua…….. Tig… Tigaaaa…” Angin belum juga bertiup kencang, masih lemah. Didin kecewa, raut mukanya tampak sedih menahan cucuran air mata yang terbendung di kantung matanya yang masih polos.

“Tuhan, Jahat!!!” Didin berdiri dan berjalan dari tengah lapang menuju ke arah rumahnya. Dia genggam gulungan benang dan membiarkan layang-layangnya merangkak di tanah lapang mengikuti langkahnya.

Tiba-tiba angin bertiup menghentikan langkah Didin. Hembusan demi hembusan membuat rumput di tanah lapang itu bergoyang, dan tanpa di perintah layang-layangnya terbang dengan sendirinya. Dengan perasaan kaget bercampur gembiram, Didin sedikit demi sedikit mengulur benang yang di genggamnya, dan membuat layangan berbentuk menyerupai ikan pari itu kian terbang tinggi.

“Tuhan, terima kasih Tuhan!!” Didin tidak kuasa menahan air matanya dan basahlah pipinya akan air mata yang tadinya merupakan air mata kesedihan itu menjadi air mata kebahagiaan.

Terhitung layang-layangnya telah terbang setinggi jarak 50 meter dari permukaan lapangan. Didin menikmatinya, tidak ada lagi kesedihan di dalam hatinya, semuanya terobati dengan mengudaranya sang layang-layang.

Layaknya pilot yang baru di percaya untuk menerbangkan pesawat tempurnya, Didin dengan semangat membelok kanan-kirikan layangannya, melalui benang yang merekat erat di genggaman tangannya.

Tiga puluh menit berlalu, satu jam menjelang adzan magrib Didin masih asyik dengan layang-layangnya, langit tampak mulai teduh sedikit demi sedikit dicampakan mentari, namun angin masih semangat menemani Didin yang sendiri di tengah lapangan sepak bola itu.

“Ah… Putus!!!” Didin berteriak mendapati benang yang mengikat layang-layangnya itu putus tanpa sebab.

“Tolong!!! Layangan Didin putus!”

Didin berlari mengejar layang-layangnya yang semakin menjauh meninggalkannya dari ketinggian. Layang-layang itu semakin merendah, namun masih jauh dari jangkauan Didin. Dengan tanpa memperdulikan apapun, dia tetap berlari mengejarnya, sampai kemanapun layangan itu nantinya jatuh.

Layang-layang itu semakin merendah. Jarak yang sudah cukup jauh, Didin lewati dari mulai panjangnya lapangan sepak bola, jembatan yang memisahkan lapangan dengan perkampungan penduduk, sampai ke sekitar rumah-rumah penduduk, selagi dia masih bisa melihat layangannya di udara yang terbang semakin merendah mencari tempat untuk mendarat, Didin tetap mengejarnya. Bahkan saking cepatnya dia berlari, tidak terasa dia malah lebih dulu daripada layang-layangnya, sehingga dia berjalan mundur menanti hinggapnya sang layang-layang kepangkuannya.

“Tettttt…. Tettttt….” “Brukkkk….Trakkkk…”

Didin tergelicir setelah sebuah truk menabraknya dari arah samping. Didin tidak sadar bahwa dia telah sampai ke tengah jalanan yang banyak dilalui kendaraan dengan kecepatan yang tinggi.

Didin tak sadarkan diri, mukanya penuh darah, badannya memar terluka oleh hantaman sudut depan truk. Didin tergeletak di pematang jalan, terlempar jauh dan truk yang menabraknya sudah semakin menjauh kabur entah kemana.

Didin, ditengah-tengah sisa nafasnya tetap berharap, air matanya bercampur dengan simbahan darah di sekujur tubuh dan kepalanya yang semakin deras memandikannya di sore yang tetap sunyi itu.

“Tuhan, kembalikan layang-layang itu padaku!!!” Dalam hatinya Didin berteriak dan tetap berharap. Samar-samar dia pandangi sekelilingnya, tidak ada satupun orang yang mencoba menolongnya, jalanan sepi, langit pun kian keruh.

Sebuah senyuman kecil tampak dari wajahnya yang sudah tidak bisa dikenali itu, layang-layangnya dengan tepat hinggap diatas tubuhnya. Dalam genggaman tangan Didin yang gemetar, layang-layang itu tidak bergerak sedikit pun.

Nafas Didin berhenti, jantungnya membisu, jiwanya menepi diatas pangkuan awan hitam sore itu. Layang-layangnya masih terpaku di atas tubuhnya yang telah mati. Didin tewas sore itu tanpa rasa yang dia sesali. Bapak dan Emaknya tidak disampingnya saat itu, dan adzan magrib mengiringi kepergiannya dari kerasnya hidup ini.


Deni Andriana
Tamansari, Bandung - 1 Oktober 2004

SOLIDERITAS & PENYESALAN

|


Namanya Ahmad Sopyan, namun teman-teman memanggilnya dengan nama Memed. Entah kenapa, nama itu malah lebih di kenal dari pada nama aslinya. Padahal, menurut petuah sang kakek, “kita harus menjaga nama baik kita sendiri dan jangan sampai membuat malu, apalagi sampai menorehkan tinta buruk diatasnya”. Sang kakek kini telah tiada, dan tidak ada lagi nasehat yang Memed dapatkan.

Namanya Ahmad Soyan alias Memed. Julukan lain yang dia dapatkan dari teman-temannya adalah pria bermata empat. Julukan itu di dapatkan karena kelekatannya dengan kacamata yang selalu dia kenakan. Tanpa kacamata, mana mungkin dia dapat melihat dengan jelas. Kata dokter, matanya minus, entah minus berapa, yang pasti mama membelikan kacamata itu untuknya. Terkadang, Memed merasa bosan dan terbebani dengan barang yang satu itu. Selain membatasi gerak, kacamata membuat Memed kehilangan rasa percaya dirinya. Memed merasa penampilannya tidak keren lagi.

Namanya Ahmad Sopyan, Memed adalah nama samarannya. Sekarang dia duduk di bangku kelas 1 SMP Caringin Sentosa. Nilai Pelajarannya cukup memuaskan, rangking lima besar selalu dia raih dari sejak duduk di sekolah dasar dan keluarganya bangga akan hal itu. Termasuk sang kakek yang meninggal tepat seminggu selepas Memed menyelesaikan sekolah dasarnya, SDN Karyamukti tepatnya.

“Med, main yuk !” Yudi menyapa ketika Memed baru tiba di depan gerbang sekolah.

“Main kemana ?” Tanya Memed yang kaget menerima kedatangan Yudi yang secara tiba-tiba.

“Maen ke rental PS Mang Kiman, mau nggak ?”

“Lho, sebentar lagi kan masuk, Yud ?!”

“Jadi, kamu nggak berani nih ?”

“Bukan begitu, aku hanya tidak mau bolos saja Yud”

“Ah, bilang saja kalau kamu takut”.

“Siapa yang takut? Aku tidak enak sama Pak Agus, pasti dia akan kecewa. Lagi pula selama ini aku belum pernah sekalipun meninggalkan pelajarannya. Apalagi membolos”.

“Guru matematika itu lagi… Memed… Memed, yang bayar sekolah itu kita, bukan Pak agus. Buat apa kita pedulikan dia, toh kita sudah bayar. Mau masuk, mau nggak, terserah kita dong”.

“Betul juga sih, tapi….”

“Tidak ada tapi-tapi, kamu berani nggak? Hah….”

“Em…Gimana ya?”

“Cepetan! Anak yang lain udah pada nunggu nih. Masa kamu kalah sama cewek sih? Sinta aja berani bolos”.

“Sinta ??”

“Ya, dia udah ada dirental Mang Kiman. Bahkan dialah yang ngajak kita untuk tidak masuk hari ini”.

“Emangnya kenapa sih kalian tidak mau masuk hari ini? Apa gara-gara ada pelajaran matematika?” Memed cemas bercampur bingung.

“Betul!! Seratus persen buat kamu. Kamu tahu sendiri kan, selain pelajarannya membetekan, yang ngajar itu galaknya minta ampun! Dari pada masuk hanya di ceramahi, lebih baik tidak masuk sekalian” jawab Yudi enteng.

“Gimana ya, Yud?”

“Ayo cepat! Kalau tidak mau ya udah aku tinggal nih. Paling nanti anak-anak akan mencap kamu sebagai banci, penakut”.

“Siapa yang banci? Enak saja. Ok, aku ikut. Tapi, hanya kali ini saja ya?!”

“Gimana nanti saja”.

Di rental Mang Kiman, teman-teman Memed tengah berkumpul. Sinta, Rahmat, Yuni dan kamal sedang berdiskusi dengan sengitnya.

“Med, akhirnya mau juga kau gabung bareng kami!” Sapa Rahmat bangga.

“Kalian ini sebenarnya mau pada ngapain sih? Kirain maen PS”.

“Sudah, kamu duduk aja dulu”.

“OK! Sekarang semuanya sudah kumpul, kita mulai saja rencana hari ini”.

“Emangnya apaan sih?” Memed kembali bertanya, penasaran.

“Diam dulu kamu !” Seru Yuni setengah marah.

“Walaupun mobil Pak Agus diparkir di lapangan gedung sebelah, tapi kita harus tetap waspada, jangan ceroboh, karena mungkin saja ada yang melihat” Ucap Sinta setengah berbisik.

“Ya kita harus tetap hati-hati, jangan sampai ketahuan,” tambah Kamal.

“Rahmat dan Yudi, masing-masing bertugas memotong kabel atau apapun yang ada di bawah mobil. Yuni dan Kamal, kalian berdua kempesin semua ban, dan aku sendiri yang akan menggores-gores badan mobil. Kamu Memed, jaga di depan gerbang lapangan parkir mengawasi jangan sampai ada orang yang tahu operasi kita, OK semuanya !”

“OK, bos !!” Jawaban yang kompak, menyambut rencana yang Sinta paparkan.

“Woi.. Jadi ini maksud kalian bolos? Aku tidak mau melakukannya, tega sekali kalian ini”.

“Eh.. Med kamu jangan sekali-kali membela dan mengasihani guru galak itu, hah…” Rahmat tampak marah dan berusaha meraih kerah baju Memed.

“Sudah.. Sudah!! Kok kalian jadi berantem sih? Memed, OK kita ngerti kamu adalah murid kesayangan Pak Agus, tapi aku harap kamu juga ingat bahwa kita semua sudah berteman sejak lama, ingat dari SD. Sekarang kamu tinggal pilih, mau bantu kami yang kemarin seharian di jemur di depan kelas oleh guru galak itu, atau kamu pilih dia dan jangan pernah anggap lagi kami adalah temanmu?!” Sinta memberikan dua pilihan yang sama beratnya bagi Memed.

“Ya udah, kalau kamu tidak solider lagi sama kita, pergi saja sana!” Ujar Yudi sinis.

“Iya, tadinya kita percaya sama kamu, karena kita yakin kamu adalah orang yang paling mengerti atas apa yang kami rasakan. Kami sudah sakit hati Med!” Tambah Yuni berharap.

“Bukan begitu maksudku, aku…”

“Hei..cepetan, kita cuma punya waktu dua puluh menit nih, sebentar lagi lapangan parkir akan ramai. Cepat mumpung lagi sepi!!” Gertak Rahmat memburu.

Lapangan parkir tampak sepi, tidak ada satu orang pun yang tinggal disana. Saat itu, tidak ada satpam ataupun petugas yang berjaga, mereka sedang berkumpul di gerbang utama sekolah. Belasan mobil, sepeda motor bahkan sepeda ayun memadati lahan parkir di samping SMP Caringin Sentosa itu.

“Ayo cepat, kalian tetap hati-hati ya!” Sinta memberi komando, yang lalu diikuti gerakan yang lainnya.

Seperti yang ditugaskan, Rahmat dan Yudi mengambil posisi dibawah mobil mencari semua kabel dan memutuskannya dengan gunting yang sengaja mereka bawa. Yuni dan Kamal, masing-masing tertuju ke ban mobil dan mulai menjamahi pentilnya. Sinta sendiri dengan menggunakan pisau belati yang serta merta dia ambil dari kamar kakak lelakinya, mulai menggores-gores badan sedan tua warna biru tersebut hingga terkelupas. Sedangkan, dengan wajah bingung dan keringat dingin yang membasahi sekujur tubuhnya, Memed berdiri terpatung sendirian di gerbang depan lapangan parkir mengawasi aksi teman-temannya, melindungi mereka semua bilamana ada orang yang datang ketempat parkir.

“Sip!! Semuanya beres”, lapor Yudi kepada Sinta.

“Kita juga!!” Tambah Yuni dengan tangan berlepotan hitam terkena ban mobil.

“OK deh.. Tos dulu dong!” Balas Sinta merayakan keberhasilan timnya.

“Ayo, kita harus cepat pergi dari sini!!” Ujar Rahmat mengingatkan.

Keenam sahabat itu kembali berada di rental PS Mang Kiman.

“Hebat, akhirnya kita berhasil juga membalas dendam sama guru galak itu,” ujar Yudi dengan bangganya.

“Ya, dia akan kesulitan sekali dengan mobilnya itu.” Tambah Sinta tidak kalah bangganya.

“Hey, kok kamu diam saja sih Med?” Tanya Yudi heran.

“Aku takut. Bagaimana kalau Pak Agus tahu bahwa kitalah yang telah merusak mobilnya.”

“Oh… Kalo itu kamu tenang aja deh!! Aku jamin dia tidak akan tahu.” Jawab Sinta.

“Iya, kamu sendiri kan tadi yang memastikan tidak ada orang yang melihat kita disana!?” Ujar Yudi.

“Memang, tapi Pak Agus pasti akan menuduh kita yang telah melakukannya, sebab saat jam pelajarannya kita tidak ada dikelas,” terang Memed dengan raut muka yang risau.

“Betul juga, pasti kita jadi tersangka utama” balas Yuni mengamini.

“Heh.. Kalian jangan khawatir! Kalaupun dia curiga, kita tidak akan terbukti bersalah, toh tidak ada bukti yang nyata,” ujar Rahmat tetap dengan keyakinannya.

“Yup, betul! Daripada ribut-ribut, lebih baik kita jaga rahasia ini rapat-rapat, OK!!” Ujar Kamal yang baru angkat bicara.

Malamnya, Memed tidak bisa tidur dengan tenang. Pikirannya kalut, perasaan sesal dan bersalah menyelimutinya. Dari mulai menyesali karena telah bolos sekolah, sampai memikirkan bagaimana reaksi gurunya tersebut ketika mendapatkan mobilnya yang rusak secara tiba-tiba.

“Pasti Pak Agus sedih dan kecewa sekali, kasihan dia.” Memed tertidur dengan pikiran yang kalut.

Esok paginya, Memed bangun kesiangan. Alarmnya mati. Mendapati kondisi seperti itu, terang saja Memed panik, dia dengan segera bersiap untuk pergi sekolah. Untungnya, kakaknya belum pergi kuliah, sehingga dia dapat boncengan ke sekolah.

Lonceng masuk berbunyi, Memed baru tiba didepan gerbang. Pas, ketika gerbang hendak ditutup, Memed berlari memasukinya, dan berhasil.

“Ah.. Ah.. Ah..” Memed mendesah lelah, nafasnya sesak setelah berlomba dengan jarum jam sampai dia kembali duduk di bangku kelasnya. Hari ini ada pelajaran matematika namun sebelumnya disisi terlebih dahulu dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia. Matematika mempunyai porsi pertemuan yang cukup banyak, tujuh jam selama seminggu. Porsi yang lebih banyak daripada mata pelajaran yang lainnya, karena memang matematika membutuhkan pemahaman yang cukup rumit.

Jam pertama berlangsung, Ibu Komala, guru Bahasa Indonesia memulai materinya.

“Hari ini, kita akan membahas penggunaan awalan dan akhiran di dalam suatu kalimat, siapkan buku catatan dan buku latihan kalian!” Ujar Ibu Komala membuka pertemuannya.

Dua jam pertama berlangsung, materi terus di sampaikan Ibu Komala, papan tulis telah penuh dengan tulisan dan penjelasannya. Memed, tidak bersama pelajarannya. Memang dia ada dan mengikuti pelajaran di kelasnya itu, namun perhatian dan pikirannya berada jauh dari sana. Memed masih memikirkan Pak Agus. Memed melihat kelima temannya, Sinta, Yuni, Rahmat Yudi dan Kamal tampak serius mengikuti pelajaran Bahasa Indonesia.

Bel pergantian jam berbunyi, Ibu Komala langsung mengakhiri pembahasannya dan berpamitan untuk meninggalkan kelas. Dan setelah itu tibalah saatnya pelajaran matematika menjelang.

Mata Memed tertuju ke arah pintu masuk kelas, bagaikan anak panah yang mencari mangsanya, Memed dengan lusuh menanti.

“Pagi anak-anak!”

“Pagi, Pak!! Serentak murid di kelas balik menyapa.

“Hari ini Pak agus tidak bisa masuk, katanya ada kepentingan yang tidak bisa ditunda. Dan hari ini pesan Pak Agus kalian pelajari saja materi yang telah disampaikannya. Ingat kalian tidak boleh keliaran di luar kelas!!” Pak Dadan, guru piket hari itu memberikan kabar yang membuat seisi kelas bersorak gembira.

“Asyik, akhirnya tidak ada matematika hari ini,” guman Putri, salah satu siswi di kelas Memed.

“Yes! Kita berhasil, tos dulu dong!” Sinta bangga karena operasinya kemarin berhasil dan membuat Pak Agus tidak masuk kelas.

“Pasti dia tengah sibuk menangisi mobilnya. Ha..ha…ha..” Bisik Rahmat.

Memed tetap bisu tertunduk lesu, rasa sesalnya semakin menjadi-jadi.

“Pak Agus, maafkan Memed, Pak!!” Bisiknya dalam hati.

“Memed janji, tidak akan melakukannya lagi, Memed menyesal Pak !”

Deni Andriana
Tamansari, Bandung
18, 19, 20 September 2004

DARI SEBUAH GUBUK TUA

|

Disebuah perkampungan orang miskin, tepatnya sebuah gubuk kecil nan rapuh, seorang cucu bertanya kepada kakeknya.

“Kek, bisa tidak saya jadi presiden?”

“Tentu saja bisa, cucuku,” jawab Sang Kakek yang tengah sibuk membersihkan tongkat kayunya yang sudah berumur tua.

“Kek, apa syaratnya kalau mau jadi presiden?”

Sang Cucu yang masih berumur enam tahun tersebut kembali bertanya kepada Sang Kakek, dan Kakek pun kembali menjawab.

“Syaratnya, harus tahu bagaimana menjadi orang kecil yang hidup serba kekurangan, yang mengorbankan air mata demi sesuap nasi. Pokoknya mereka harus mau mencium tanah orang miskin.”

“Kalau begitu, apakah calon presiden yang saya lihat di televisi pak lurah, itu sudah memenuhi syarat dari kakek nggak?” Ujar Sang Cucu dengan nada memelasnya meminta jawaban sang kakek.

Matahari siang itu, begitu panasnya menggagahi bumi, pesawahan kampung sudah lama mengalami kekeringan, para petani hanya bisa berdiam diri menunggu hujan membasahi tanah mereka. Sang kakek, yang merupakan buruh tani tidak bisa berbuat banyak mengatasi kekeringan tersebut.

“Setahu kakek, mereka itu sudah turun ke bawah. Tapi, mereka turun bukan untuk merasakan dan membawa persoalan rakyat kecil ke meja mereka, namun mereka turun kebawah hanya untuk memunguti suara-suara rakyat miskin untuk kekuasaan mereka,” jawab Sang Kakek yang sempat merenung sejenak mendapatkan pertanyaan Sang Cucu.

“Terus, kenapa kakek tidak mau mencalonkan diri menjadi seorang presiden?” Sang Cucu kembali melemparkan pertanyaan yang membuat sang kakek terbatuk-batuk, menahan darahnya yang mulai memanas ketika membicarakan tentang presiden.

“Loh, bukannya kakek tidak mau, tapi kakek tidak punya partai yang bisa meraup suara rakyat dengan dalih-dalih perjuangannya, kalau saja ada partai yang menawari, pasti kakek akan bersedia, kenapa tidak?!” Jawab Sang Kakek tegas dan tampak berwibawa di hadapan sang cucu kesayangannya itu.

“Kalau kakek jadi presiden, apa yang akan kakek lakukan?” Sang Cucu dengan cerdasnya kembali membuat dahi sang kakek berkerut dibalik keriput wajahnya.

“Yang pertama kakek lakukan adalah membuat biaya pendidikan menjadi muarah dan menggratiskan pendidikan untuk rakyat miskin, supaya anak seperti kamu dapat sekolah setinggi-tingginya” Jawab sang kakek sambil mengelus-elus pundak sang cucu, dan sang cucu pun kembali bertanya.

“Terus apa lagi, kek?” “Kakek akan pindahkan istana negara ke gubuk ini, biar kakek dapat lebih jelas melihat keadaan orang kecil dan supaya dapat merasakan bagaimana pedihnya kehidupan ini,” jawab Sang Kakek menerawang.

Setelah mendapatkan jawaban terakhir dari sang kakek, sang cucu pun segera melepaskan pelukan manja dari kakek tersayangnya tersebut, dan dengan gesit berlari kearah pintu gubuk hendak keluar.

“Hey, mau kemana kau nak?” Tanya Kakek yang merasa terkejut mendapatkan tingkah cucu lelakinya itu.

“Saya mau bertemu orang partai yang ada dirumah pak lurah, kek. Saya akan minta agar kakek dicalonkan jadi presiden,” jawab Sang Cucu semangat.

Sang cucu pun berlari keluar gubuk dengan riangnya bagaikan seorang pejabat yang menang lotre. Sedangkan, sang kakek kembali membersihkan tongkat kayunya yang puluhan tahun lalu dia jadikan sebagai senjata untuk melawan para penjajah yang mengotori bumi Indonesia ini.

Deni Andriana
Tamansari, Bandung - 2 Juni 2004

GITAR KOPONG

|


Joni berjalan mengintari sisi trotoar jalanan, malam dia lewati dengan bekal segenggam mimpi yang tak pernah terbeli. Joni pengamen di trotoar jalanan, tidak ada ibu yang memanja, tidak ada bapak yang menasehati, Joni adalah anak jalanan, anak jalanan yang mengejar mimpi-mimpi yang tak pernah terbeli.

Hujan, terik mentari dan dinginnya angin malam bukan prahara yang mampu menghentikan semangat hidupnya, Joni berjuang demi sesuap nasi, Joni bertahan demi segenggam impian yang menjejali otaknya.

Jakarta adalah kota yang tidak ramah baginya, caci dan maki bahkan pukulan petugas keamanan menjadi menu yang sangat memuakan bagi kehidupannya. Joni tidak punya tempat untuk berteduh apalagi apartement mewah, emperan toko dan kolong jembatan yang dijadikannya tempat berlindung dari ganasnya prahara kehidupan.

Sebuah gitar kopong yang sudah tidak bernilai lagi menjadi senjata utamanya untuk berperang melawan tuntutan hidup, tidak ada lagi pekerjaan yang dapat dia lakukan selain dengan mengamen. Joni, tidak mau untuk terlibat dalam tindak kriminal yang meresahkan masyarakat, Joni hanya bernyanyi, dia cuma pengamen jalanan. Uang recehan yang diberikan dengan iklas akan lebih membahagiakannya daripada janji-janji undang-undang dasar. “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara” (pasal 34 ayat 1 UUD 45).

Disuatu siang yang tidak ramah, Joni berkeliaran dijalanan, diperempatan sekitar lampu merah yang menjadi simbol kekuasaan jalanan, Joni memetik gitar kopongnya dan menyanyikan sebuah lagu yang tidak begitu merdu tapi cukup untuk dijadikan senjata didepan kaca sebuah mobil mewah siang itu, mobil mewah seorang pejabat kota. Sebiji uang receh 500 perak terhempas dari dalam mobil sedan mewah berplat nomorkan warna merah tersebut, uang bergambarkan burung garuda itu dilemparkan oleh pemiliknya kearah Joni.

“Hey, yang sopan dong kalau mau kasih!? Aku masih punya harga diri, aku bukan pencuri yang ingin merampok mobil anda, jika tidak ikhlas silahkan ambil kembali uang anda”, ucap Joni mengomentari perlakuan dari orang yang berada didalam mobil mewah tersebut kepadanya. Mobil pejabat, mobil rakyat, pejabat rakyat. Rakyat miskin, pejabat jadi kaya.

“Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.” (pasal 28 B, ayat 2 hasil amandemen)

Dengan segumpal emosi Joni menendang dengan keras kearah badan mobil mewah tersebut, setelah itu dia berlalu pergi meninggalkan mobil dan penghuni didalamnya yang tidak bereaksi sedikitpun.

Lampu hijau dari tiang rambu jalanan menelan mobil mewah tersebut dari pandangan Joni, mobil pun melaju tanpa beban, dan Joni masih sendiri memendam sejuta dendam dalam hatinya.

“Ada apa, Jon?!” Sapa salah seorang teman ngamennya, Boncel nama panggilannya.

“Gila tuh pejabat, Cel,“ jawab Joni berang, lalu dipeluknya sang gitar kopong kesayangan.

“Gila kenapa? yang jelas dong kalau ngomong kawan!“ Ujar Boncel yang berbadan kecil, dan karena tubuh kecilnya itulah dia kerap dipanggil dengan nama Boncel oleh kawan-kawan pengamennya, nama aslinya adalah Susanto, begitulah anak-anak jalanan saling menyapa.

“Loe tahu? tadi pejabat di dalam mobil mewah itu melemparkan duit gopean (Rp 500,-) dengan kasar kearah gua, terang aja gua nggak terima atas perlakuan itu, biar pengamen gua juga masih punya harga diri, gua nggak ingin disamakan dengan mereka yang dengan hinanya memunguti hasil keringat orang-orang kecil, emangnya gua ini binatang??” Terang Joni dengan nafas terengah-engah menahan emosi yang bergejolak di dalam dadanya.

“Terus apa yang kau lakukan tadi?” Tanya Boncel menanggapi cerita Joni.

“Ya, gua jelas marah dong. Tadi gua tendang mobil itu. Gua tidak tahu apa ada kerusakan pada bodi mobil mewah itu, yang pasti tadi gua tidak bisa mengontrol emosi, hingga gua tendang dengan keras.” Jawab Joni dengan nafas yang semakin memburu.

“Lho, kasar sekali kau ini?” Ujar Boncel sambil menepuk bahu kiri Joni.

“Kasar, kasar apanya? Jadi kau pikir apa yang telah di lakukan pejabat itu padaku adalah perbuatan yang lembut? Lagi pula itu kan mobil rakyat, bukan mobil miliknya.” Jelas Joni mempertahankan egonya.

“Sudahlah, bersabarlah kau, Jon! Namanya juga pengamen, kadang-kadang diperlakukan dengan ramah, dan tidak sedikit pula dianggap layaknya hewan. Ini adalah kehidupan jalanan, kehidupan nyata. Yang pasti tidak selamanya hitam itu kotor, dan tidak selamanya pula yang putih itu selalu bersih. Biarkan mereka menilai kita apa saja, yang penting kita tidak sama seperti yang mereka gunjingkan.” Ujar Boncel dengan bijaknya.

Kehidupan kembali berjalan dengan normal, lampu merah kembali menyala, Joni, boncel dan beberapa orang pengamen yang mencari rezeki dipersimpangan kota tersebut kembali turun kejalanan menjual petikan gitar kopong dan suara emas mereka.

Joni, dengan semangatnya menyanyikan sebuah lagu dari penyanyi balada favoritnya, sebuah angkutan umum menjadi sasaran dari kreasinya. Lampu hijau tanda peringatan mulai menyala, Joni menghentikan nyanyiannya dan dengan sopannya dia menyodorkan topi kupluknya kearah penumpang di dalam mobil angkutan umum tersebut, beberapa penumpang dengan suka rela memberikan uang recehan kepadanya.

“Terima kasih, selamat jalan!” Sapa Joni kepada para penumpang dan sopir angkutan umum tersebut. Joni mensyukuri apa yang telah diterimanya.

Matahari mulai meninggi, hawa panas menyengat tanpa kompromi. Joni dan Boncel berusaha melepas rasa lelahnya dan beristirahat di bawah pohon rindang yang terletak di sekitar perempatan kota tersebut. Sebatang rokok kretek menyala dari bibir Boncel yang kering, tidak ada obrolan diantara mereka. “Boncel asyik menghibur diri dengan petikan gitar kopongnya, sedangkan Joni dengan damainya bersandar pada tubuh sang pohon yang tidak pernah meminta imbalan kepada para pengguna jasa rindangnya.

“Hey, kalian.. Ayo ikut kami!!” Sekawanan polisi menghampiri ketenangan Joni dan Boncel.

“Ada apa ini, Pak?” Tanya Boncel berontak.

“Jangan banyak tanya, ayo masuk ke mobil!” Gertak polisi kepala dengan nada tingginya.

“Lho, apa salah kami? Kami ini cuma pengamen, Pak!” Bantah Joni yang merasa kecewa atas perlakuan kasar kawanan polisi yang datang secara tiba-tiba tersebut. Sedangkan pengamen-pengamen lainnya hanya dapat bertanya-tanya satu sama lain melihat penangkapan tersebut.

Di kantor polisi, sebuah tempat yang katanya melayani masyarakat, Joni dan Boncel terhanyut dengan seribu tanya tanpa jawab di dalam terali besi. Tidak ada yang bisa dimintai keterangan, apalagi pertolongan. Setiap kali mereka bertanya, kawanan polisi yang menangkap mereka malah memukul dan memberikan ancaman. Joni dan Boncel harus mendekam di sel kantor polisi.

Sang kantor sore itu tampak ramai, padahal tidak banyak penghuni yang ada disana. Namun, di kantor milik pemerintah tersebut, para polisi yang berjaga tengah asyik menonton tayangan infotaiment yang memang sedang maraknya. Adu argument diantara mereka menjadikan sang kantor cukup meriah. Dan Joni hanya bisa menatap resah kearah kawanan berpangkat amanat rakyat tersebut. Boncel yang malang, mencoba untuk memejamkan mata sambil berharap para malaikat menolong mereka.

“Mungkin saja ada orang baik yang akan menolong kita.”

“Mana mungkin, Cel?! Di negeri ini, orang-orang sudah tidak berperikemanusiaan lagi. Semuanya sibuk mengurusi diri sendiri. Mana mungkin mereka mau menolong kita.”

“Ya, mungkin saja!”

“Tapi siapa? Apa mungkin presiden yang akan membebaskan kita?!”

“Ya nggak lah! Yang pasti kita kan nggak jelas apa salahnya, kalau kita benar, pasti Tuhan akan bersikap bijak.”

“Kebenaran, kebenaran apalagi yang bisa bertahan di jaman sekarang, semuanya sudah bisa dibeli dengan uang. Tahta, jabatan, bahkan kantor polisi ini pun sudah ada banderolnya.”

“Maksud kamu, harus ada uang gitu?”

“Pasti!! Kalau saja kita punya uang dan memberikan uang jaminan, mereka pasti membebaskan kita.”

“Sayang, kita hanya punya uang recehan ya, Jon! Mereka mau nggak ya?!”

“Sudahlah! Lebih baik kita tunggu saja nasib apalagi yang akan kita hadapi.” Kedua pemuda malang itu mencoba merebahkan tubuhnya di lantai sel tahanan dengan seribu pertanyaan dan harapan di benaknya.

“Kringg...kring.. kring..” Tiba-tiba suara telepon yang tertata diatas meja berdering, semua lamunan dan kesuka citaan di dalam kantor polisi pun memudar.

”Halo.. Kantor polisi disini ada yang bisa kami bantu?!” Sang polisi kepala dengan sigap lansung menyambar gagang telepon yang menari-nari dengan lincah itu.

“Oh.. Selamat sore, Pak! Ya, mereka sudah kami tahan, tenang saja! Sekarang Bapak dapat memberi pelajaran kepada mereka, atau kalau Bapak mau biar kami saja yang menghukum mereka.” Suara polisi kepala membuat Joni dan Boncel bangkit dari kebingungannya. Mereka dengan tekun menyimak setiap perkataan sang polisi kepala dengan orang asing dibalik kabel telepon. “

Siap Pak! Akan saya laksanakan.”

“Trupp..” Gagang telepon kembali bersetubuh dengan wadahnya, perbincangan pun selesai. Namun, Joni dan Boncel masih belum menangkap misteri dari semua yang terjadi di kantor polisi tersebut.

“Kalian besok pagi boleh pergi dari sini!” Sang Polisi kepala mendatangi sel dimana Joni dan Boncel mendekam tanpa keterangan yang pasti.

“Lho.. Kenapa nggak sekarang aja, Pak?!”

“Iya, lagi pula kita dari tadi belum tahu apa sebenarnya salah kita.” Tambah Joni yang merasa gemas dengan kawanan polisi yang telah meringkusnya tersebut.

“Diam!! Sudah untung kalian dibebaskan, dasar kampret!!” Dengan beringas sang polisi kepala meninggalkan Joni dan Boncel yang tertenduk lesu di dalam bui.

Sore menjelang dan matahari mulai menyembunyikan kegagahannya. Joni dan Boncel dengan hati yang bimbang bersiap untuk menghadapi dinginnya malam. Bukan di bawah lampu merah jalanan, dimana bersama gitar kopongnya mereka biasa mengamen sampai menjelang larut malam, tapi kali ini mereka mesti menikmati angin malam dari balik jeruji besi yang telah membelenggu nafas dan kebebasan mereka. Tempat dimana mereka di tahan tanpa keterangan yang seharusnya mereka dapatkan.

”Segala warga negara bersamaaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.” (salah satu bunyi dari pasal undang-undang dasar yang hanya di jadikan atibut kelengkapan negara saja)

Joni dan Boncel terlelap dalam mimpinya yang hitam menunggu fajar pagi yang akan mengembalikan mereka ke alamnya, jalanan kota tentunya. Bersama gitar kopong yang tidak pernah lelah menyenandungkan penderitaan dan perjuangan hidup mereka.


Deni Andriana
Tamansari Bandung, 29, 30 Mei dan 10, 20 Agustus 2004

SATRIA BANGSA

|


Tidak pernah terbayangkan olehku sebelumnya, ketika kini aku harus mendapatkan temanku mengakhiri perjuangannya dengan mata pedang kehidupan. Airmatanya telah kering seiring dengan kesetiaan yang selalu dia tampakan, darahnya sudah membeku tidak lama setelah kehidupan ini menyumpahinya sebagai pengkhianat jaman. Tubuh dan seluruh nafasnya menjadi prasasti bersejarah yang tak pernah mendapatkan medali.

Satria Bangsa, itulah nama temanku. Nama itu bukan mengada-ada ataupun falsafah belaka, karena memang itulah nama teman yang telah mengajariku tentang arti sebuah perjuangan dalam hidup ini. Jika aku boleh mendefinisikannya, maka ku mulai dengan nama Satria, yang berarti seorang pemberani yang memegang teguh panji perjuangannya dan pantang untuk menerima kekalahan. Sedangkan, Bangsa sendiri merupakan suatu kesatuan masyarakat yang mempunyai kebudayaan, wilayah, asal-usul dan tatanan hukum yang sama. Kalaupun adanya suatu keragaman, itu hanya merupakan suatu kekayaan di dalam kesatuannya. Satria Bangsa, seorang pemberani dari sebuah bangsa, mungkin hanya itu yang dapat aku artikan dari nama temanku itu. Dan aku yakin, diantara anda semua tentunya ada yang punya pendapat dan pemaknaan yang berlainan denganku, tidak masalah bagiku. “Aku bukan anda dan anda pun tak akan menjadi aku,” aku kutip dari perkataan Satria Bangsa yang dia ucapkan dengan nada memecah disuatu malam yang dingin kepadaku.

Aku tidak mau terlalu banyak menggambarkan tentang fisik Satria Bangsa, selain rambut gondrongnya yang tidak pernah dia ikat dan dibiarkan tergerai lurus begitu saja, seliar dan sebebas kreasinya. Yang aku tahu, Satria adalah seorang anak dari buruh miskin dari ujung negeri ini, negeri yang katanya melindungi rakyat kecil. Ayahnya mati muda, entah karena termakan beban berat yang harus dia tanggung, mengidupi keluarga dan bekerja siang malam tanpa kenal lelah, atau memang takdir yang telah memintanya. Sang ayah meninggalkannya saat dia baru duduk dikelas dua SMP. Ibunya, dengan susah payah akhirnya mampu mengantarkanya ke bangku kuliah. Satria adalah anak satu-satunya. Sampai disitu, sang Ibu pun mesti pergi memenuhi panggilan Sang Maha Kehidupan.

Satria Bangsa, selain kuliah dia juga harus rela membagi waktunya untuk bekerja, paling tidak enam jam sehari dia lewati dengan menjadi pramuniaga di sebuah toko elektronik di kota tempat dia merantau. Tinggal jauh dari dekapan makam kedua orang tuanya membuat Satria terbiasa dengan kerasnya kehidupan ini. Selain menjadi pramuniaga atau kasarnya disebut pelayan, Satria Bangsa tidak hentinya membuat tulisan di media masa, dari mulai artkel, resensi buku maupun karya sastra. Honor yang lumayan pun dia dapatkan dari hasil coretannya itu.

“Satria, ada apa? Kelihatannya kamu tampak lesu hari ini, ada masalah?” Tanyaku menyapa kesendiriannya ditengah hiruk pikuk barang elektronik di toko tempat dia bekerja. Hari itu, aku sempatkan berkunjung kesana. Sekalian saat itu aku hendak membeli tape recorder di toko yang lumayan besar tersebut.

“Hai.. Tumben kamu kesini, Den?” Balasnya yang masih sibuk dengan setumpuk kardus yang tengah dia tata di etalase toko.

“Kenapa kamu nggak masuk kuliah tadi?”

“Aku sudah ambil cuti, Den. Aku tidak sanggup lagi untuk bayar uang kuliah, penghasilanku tidak cukup untuk itu. Sudah bisa makan dan bayar kontakan saja, aku sudah bersyukur.” Jawabnya dengan raut muka yang tidak lebih indah dari gunung merapi yang menahan lahar panasnya.

“Oh, sory aku tidak tahu soal itu. Apa tidak ada jalan lain?!”

“Jalan lain maksudmu? Ini adalah jalan terbaik yang harus aku tempuh. Mungkin, kalau udah ada uang yang cukup, aku akan lanjut lagi kuliah. Untuk sekarang ini, lebih baik aku kerja dulu, paling tidak mulai hari ini jam kerjaku menjadi 12 jam sehari sampai toko tutup. Sudahlah, aku tidak apa-apa, aku harap kamu jangan menyia-nyiakan jalan yang Tuhan berikan kepadamu, kamu harus mampaatkan peluang yang kamu miliki, jangan seperti aku. Kamu masih punya orang tua yang mampu membiayai hidupmu. Paling tidak, sampai kamu meraih gelar sarjana.” Ucapan Satria terhenti, dia harus memenuhi panggilan bosnya dari balik rak toko.

“Oh.. ya, kamu ada perlu apa nich datang kemari?” Tanya Satria memecah lamunanku yang semakin dalam merenungi setiap perkataanya.

“Eh.. Iya, aku butuh tape recorder nich!!”

“Oh, bilang dong dari tadi pak wartawan, kalau begitu kan kamu tak perlu mendengarkan curhatku dulu.” Balasnya dengan nada mengejek.

Aku adalah seorang wartawan kampus, dari sebuah organisasi pers mahasiswa di kampusku, tempat kuliah Satria Bangsa juga. Sebagai wartawan, tape recorder adalah senjata yang memang harus aku miliki.

“Ya udah, kamu pilih aja dulu! Aku kebelakang dulu ya, bos manggil-manggil terus..” Ujarnya dan segera pergi kearah belakang meninggalkanku.

Satu, dua, tiga empat recorder ku pilih, namun belum ada yang cocok dengan isi kantongku. Akhirnya, sebuah sebuah recorder warna hitam menjadi pilihanku, karena selain kualitasnya lumayan bagus, harganya pun tidak sampai menguras semua isi kantongku, paling tidak aku masih punya ongkos pulang ke rumah kostku.

Setelah aku bayar, aku pun berpamitan pulang pada Satria Bangsa yang tampak masih sibuk dengan pekerjaannya yang malah semakin bertambah banyak. “Aku balik dulu, kalau ada waktu main ya ke kostan, atau temui aja aku di kampus.”

“Ok bos, hati-hati ya!!” Balasnya yang dengan serta merta mengajungkan jempol kirinya kearahku.
****

Dua bulan kemudian, selepas pulang kuliah aku bergegas menuju ketempat Satria bekerja. Toko elektronik dekat persimpangan kota. Rasa ragu membayangi setiap langkahku di dalam toko yang besar itu. Tidak ada satupun yang dapat aku kenali di dalamnya, apalagi Satria Bangsa. “Kemana dia?” Pikirku, setelah cukup lama modar-mandir dengan alasan melihat barang elektronik yang semakin banyak di toko itu. Namun, bukan barang elektronik yang aku cari sebenarnya saat itu.

“Cari apa Mas? Ada yang bisa saya Bantu?!” Tanya seorang pelayan toko dengan ramahnya menghempaskan perhatianku.

“Mas, Satria masih kerja disini kan?”

“Oh, kalau soal itu saya tidak tahu Mas! Tanya saja sama bos!!” Jawabnya, lalu menunjuk kearah bosnya yang tampak sibuk tengah menghitung uang di meja kerjanya. Dengan ragu aku mendekati bos pemilik toko tersebut.

“Pak, Satria masih kerja disini?”

“Oh.. Anak itu. Satu bulan yang lalu dia keluar dari sini, katanya sich ada pekerjaan baru. Memangnya adik ini siapa?”

“Saya teman sekampusnya, Pak! Bapak tahu dimana sekarang Satria kerja?”

“Saya tidak tahu soal itu. Satria tidak pernah bilang mau kerja dimana. Kasihan anak itu! Saya sangat menyayangkan dia keluar dari sini. Anak itu kerjanya rajin, tidak rewel dan penurut.”

“Oh, begitu ya Pak! Ya udah, kalau begitu terima kasih ya Pak!”

Rasa bingung bercampur sesal berkecamuk kuat di dalam benakku, sore itu.

Satria, kenapa dia tidak bilang kalau mau pindah kerja. Ya, ini memang salahku juga, yang tidak pernah menghubunginya dua bulan terakhir ini. Kesibukan di kampus menenggelamkan hampir seluruh waktuku. Kesibukan yang tidak ada harganya bila dibandingkan dengan rasa sesalku saat kehilangan sahabat terbaikku.

“Bu, Satrianya ada?” tanyaku kepada Ibu kost tempat Satria tinggal.

“Satria sudah pindah, Nak!”

“Ibu tahu kemana dia pindah?”

“Ibu tidak tahu jelas kemana, tapi dia sempat bilang katanya mau kerja di Jakarta, tapi dimana tepatnya, Ibu juga tidak tahu.”

Kemana lagi aku harus mencari, tridak ada nomor telepon yang bisa aku hubungi, semua teman-temannya pun tidak ada yang tahu kemana dan dimana Satria berada. Sampai tengah malam menjelang, aku baru sampai di rumah kostku dengan hasil nihil. Tidak ada satu jejak pun yang dapat aku temukan dari Satria Bangsa.

Apakah dia pulang ke kampung halamannya? Tidak mungkin, soalnya dia pernah bilang, tidak akan pulang sebelum menjadi orang sukses, apalagi setahuku tidak ada satupun saudara dan keluarganya yang tinggal disana. Kerabat-kerabat dan sudaranya terpencar di berbagai pelosok negeri ini, semuanya merantau. Di sana hanya ada makam kedua orang tuanya. Rumahnya telah dijual untuk melunasi semua utang yang dia warisi dari ayah dan ibunya, itupun masih kurang. Berkat kebaikan tetangganya yang dengan suka rela memberikan sumbangan, akhirnya semua utang pun berhasil di lunasi. Satria berjanji kalau sudah sukses, dia akan membalas semua kebaikan para tetangganya itu. Dan untuk sekarang, jangankan membayar utang budi, memenuhi kebutuhan diri sendiri pun dia masih merangkak. Namun, hal itulah yang aku suka dari Satria, dia tidak pernah mengeluh apalagi sampai menyerah pada kenyataan.

Aku yakin, Satria tidak sedang berada di kampung halamannya. Jakarta, apakah dia sekarang berada disana? Apa yang dia lakukan di kota besar itu? Angin mana yang menuntunnya kesana? Kenapa dia tidak pernah menghubungiku? Apakah dia marah kepadaku? Apa yang dia lakukan malam ini? Apakah dia sudah mendapatkan pekerjaan yang lebih layak di sana? Sudah makankah dia saat ini? Apakah dia dapat tidur nyenyak malam ini? Apakah dia…

Pertanyaan-pertanyaan itu menjerumuskanku kealam bawah sadar. Di dalam tatapan dewi mimpi aku mendapatkan Satria tengah berjalan tenang keluar dari sebuah sedan mercy dengan pakaian yang rapi. Dia tersenyum menghampiriku dan tanpa sepatah kata pun langsung mendekapkan tubuhnya kepelukanku.

Dan, aku tersentak ketika pintu kamarku bergetar menimbulkan suara yang keras. “Ah… ini hanya mimpi, jam berapa ini? Gila sudah jam sebelas.” Bapak kost berdiri di depan pintu kamarku.

“Ada apa Pak?!”

“Baru bangun? Ini ada surat buat kamu.”

“Terima kasih, Pak!”

Ku simpan surat itu dan bergegas aku masuk ke kamar mandi. Siang itu ada rapat yang harus aku ikuti di organisasi pers mahasiswaku.

“Ah… Segar…” Di dalam kamar mandi kesegaran seakan membalut semua bebanku. “Satria.. Ternyata itu hanya mimpi, maafkan aku sobat!” “Ah.. Surat itu, apakah itu surat dari Satria??” Aku teringat akan surat yang di berikan bapak kost yang aku letakan begitu saja di atas tempat tidurku. Tanpa pikir panjang dan tidak memperdulikan kesegaran yang aku dapat, aku langsung bergegas kembali menuju kamarku.

Surat itu masih ada diatas tempat tidur dan segera aku raih. Amplopnya masih utuh, ku amati setiap lekuk bagiannya. Jelas bahwa surat itu ditujukan untukku, tapi dari siapa? Tidak ada identitas pengirimnya di atas amplop itu. Lalu aku sobek bagian samping kirinya, dan tampaklah sepucuk kertas yang terlipat di dalamnya. Barisan kata bertuliskan tangan, tersirat diatas kertas putih itu, tulisan yang tidak asing lagi untuk aku kenali.

Jakarta, 10 Agustus 2004
Kepada ,
Sahabat terbaikku, Deni Andriana
Di tempat,

Salam perjuangan,

Den, aku minta maap sebelumnya karena aku tidak pernah memberi kabar akan kepergianku selama ini. Aku sekarang berada di Jakarta, disini aku baik-baik saja. Hidupku tenang disini. Tidak ada lagi beban, hari-hari semakin cerah aku jalani. Bagaimana kabarmu saat ini? Aku harap kamu sehat selalu, dan tetap semangat untuk mengejar semua impianmu.

Den, aku tidak dapat dengan jelas menyebutkan dimana aku berada saat ini, aku harap kamu tidak usah mencariku!! Biarkan aku nanti yang akan menemuimu, setelah matahari kembali cerah di tengah kita, di tengah persahabatan kita.

Di tempat sekarang, aku semakin sadar bahwa hidup ini bukanlah suatu kenyataan yang manis, banyak hal yang tidak bisa kita duga sebelumnya, semuanya memerlukan perjuangan dan yang pasti ada titik akhir dari semua perjuangan dalam hidup ini. Titik akhir yang mana? Tidak ada seorang pun yang tahu, termasuk aku.

Satu hal yang selalu aku ingat sahabatku, bahwa sepahit apapun keadaan kita, janganlah kita terjebak di dalamnya, buatlah hidup ini terasa manis walaupun kenyataannya pedih. Mungkin orang akan memberikan berbagai penilaiannya terhadap kita. Biarkanlah mereka menilai kita apa adanya, dan kita masih punya Tuhan yang tidak pernah lelah memantau semua langkah yang kita jalani. Percayalah bahwa semua hal yang kita lakukan dengan sepenuh hati itu, lebih baik daripada harus diam memendam kenyataan yang hanya akan membuat kita menjadi seorang pecundang. Teruslah berkreasi sahabatku, sampai orang di sekitarmu tahu siapa dirimu yang sebenarnya, paling tidak janganlah menjadi pecundang untuk dirimu sendiri.

Terakhir, aku harap kamu tetap mau menjadi sahabat terbaikku, sampai kapanpun. Suatu saat aku akan menemuimu, dan tentunya dengan keadaan dan waktu yang lebih baik daripada hari ini. Aku janji selama waktu masih memberi aku ruang, dan Tuhan masih memberikan aku kehidupan, aku akan selalu mengirimkan surat untukmu. Tidak perlu kamu balas suratku!! Bisikan saja pada angin malam yang menghampirimu dan percayalah Tuhan akan menyampaikannya kepadaku.
Salam persahabatan

Satria Bangsa

Satria, ini adalah surat darinya. Kenapa dia menenyembunyikan keberadaannya dariku??

Tidak terasa, satu jam berlalu aku lewati bersama surat Satria, sampai aku tersadarkan diri bahwa aku sudah telat setengah jam untuk menghadiri rapat di organisasi pers mahasiswaku. Dengan perasaan yang lebih lega, walaupun masih banyak misteri yang menyelimuti, aku beranjak menuju kampus tempat dimana kawan-kawanku berkumpul.

“Sory, terlambat!!” Ketika aku masuk ruangan, ternyata memang benar bahwa rapat telah dimulai.

“Masuklah!!” Seru Elva, sang pimpinan rapat saat itu.

Ya, organisasiku ini sebentar lagi akan menerbitkan majalah edisi terbarunya, saat itu kami harus melakukan rapat redaksi untuk menentukan isi dan bahasan dari majalah yang akan diterbitkan.

Rapat berlangsung dengan serunya, saling adu argumen tampak diantara kami, namun pada akhirnya sebuah solusi terbaiklah yang kami dapatkan. Itulah yang menjadi prinsip kami, bahwa dalam sebuah rapat, sehebat dan sekeras apapun perbedaan dan pertentangan pendapat di dalamnya, pada intinya kami semua berusaha untuk mencari titik akhir yang terbaik, sebuah solusi dan jalan keluar untuk kepentingan bersama.

Rapat pun usai, sebagian kawan-kawanku berpamitan pulang, karena memang langit sudah mulai gelap. Sebagian lagi masih berada diruang rapat yang juga merupakan ruang kerja organisasiku, termasuk aku yang sejak tadi kurang bersemangat untuk mengikuti rapat.

“Ada berita apa, Zan?” Tanyaku pada Fauzan. Dia adalah salah satu anggota organisasiku yang cukup loyal, umurnya sudah lumayan tua tapi dia tetap bersemangat untuk bergabung dengan kami semua.

“Gila, seorang pemuda dipenjara karena membunuh seorang polisi.”

“Ah, yang bener, Zan? Siapa pemuda itu? Berani sekali dia.” Aku mencoba untuk menggali informasi lebih lanjut dari Fauzan yang tengah serius dengan berita di koran yang berada di antara rentangan tangannya itu.

“Namanya, Sa.. Satria..” Jawab Fauzan terbata-bata mengeja huruf yang terctak diatas koran.

“Coba lihat, Zan! Koran kapan ini?” Terang saja aku kaget mendengar nama Satria di sebutkan oleh Fauzan.

“Koran dua minggu yang lalu.” Jawab Fauzan sambil meyerahkan koran yang sudah tampak lusuh itu kepadaku.

Ya Tuhan..!! Memang benar, Satria Bangsa menjadi pembunuh, dia telah membunuh seorang polisi di sebuah terminal besar di Jakarta. Satria di penjara. Kenapa dia sampai berbuat senekat itu? Satria, apakah penjara yang dia maksud tempat yang damai itu?

“Seorang pemuda berumur 20 tahun telah membunuh seorang aparat kepolisian yang bertugas di terminal Pulo Gadung Jakarta senin kemarin. Satria, nama pemuda nekat tersebut, kini harus meringkuk di LP Cipinang. Tidak jelas apa motif dari pembunuhan tragis itu, sampai berita ini diturunkan pihak kepolisian masih melakukan pengusutan lebih lanjut.”

Begitu kiranya potongan kalimat berita yang aku dapatkan dari koran yang sudah berumur dua minggu tersebut. Kenapa berita itu baru sekarang aku baca? Kenapa kamu kehilangan arah seperti ini, satria?

“Den, ada apa?” Tanya Fauzan keheranan melihat aku yang lesu.

“Tidak, tidak apa-apa Zan!” Aku mencoba menutupi kenyataan di hadapan teman-temanku saat itu.

Mereka belum tahu bahwa pembunuh berdarah dingin itu adalah Satria, sahabat terbaikku. Satria orang yang kuliah satu kampus dengan mereka semua. Tapi, memang tidak banyak yang mengenalnya, karena Satria berbeda dengan teman-temanku yang lainnya, sehabis kuliah dia pasti langsung pergi meninggalkan kampus menuju tempat kerjanya. Satria tidak sama seperti kebanyakan mahasiswa di kampusku yang sering nongkrong dan berlama-lama di kampus tanpa ada yang mereka kerjakan, rata-rata hanya menjual tampang dan cari muka di kampus dan menjadikan kampus tempat untuk bermain dan berkelakar layaknya tempat hiburan dan mall.

Satria, memang dia telah membunuh, tapi aku tidak bisa untuk terlalu menyalahkannya. Karena, aku belum tahu sebenarnya untuk dan dengan alasan apa dia sampai melakukan hal itu. Aku tidak bisa untuk langsung mencap dan mendakwa seseorang sebelum ada bukti yang kuat, bukan hanya bukti secara material, tapi juga bukti secara psikologis, siapapun itu.

Di negaraku ini, seorang perempuan pun bisa membunuh ketika dia harus mempertahankan mahkota dan kesuciannya. Tapi, biasanya sang hakim akan langsung memvonisnya dengan hukuman yang buta tanpa melihat dan mencari tahu dulu kenapa dia sampai melakukan pembunuhan itu. Apalagi kalau korbannya adalah orang yang punya kuasa dan jabatan.

Aku masih berharap sampai saat ini, semoga berita yang aku baca di koran tersebut adalah sebuah kekeliruan, walaupun di antara berita itu, foto Satria terpampang dengan jelasnya memberi bukti. Biarlah Tuhan yang akan menilai, karena Tuhan tidak akan pernah lelah memantau semua langkah yang di jalani hambanya, seperti yang di tulis Satria di dalam suratnya kepadaku. Satria Bangsa, sahabat terbaikku.

Deni Andriana
Tamansari Bandung, 8 Mei, 9 & 22 Agustus 2004

PUTRA DAERAH DAN KOTA KELAHIRAN

|


Affandi Syahid terkejut, ketika melihat pemandangan gersang di kota kelahirannya, dia terpana dan kecewa melihat telah sirnanya pohon-pohon akasia disekitar jalan raya kota, seturunnya dia dari bis yang mengantakannya dari Bandung, tempat dia merantau sebagai seorang mahasiswa, gelar yang menjadi kebanggaan bagi para anak muda tapi itu tidak terlalu berlaku baginya.

Bis jurusan Bandung Cikarang pun kembali berjalan dan meninggalkan Affandi Syahid ditengah lingkungan yang menjadi tempat yang begitu asing baginya, tidak ada lagi pohon-pohon yang rindang di tengah kota, tidak ada lagi kesejukan seperti yang dia rasakan dulu dikota kelahirannya itu, yang tertinggal hanyalah sesaknya pertokoan dan para pedagang kaki lima yang memadati setiap tepian jalan.

“Inikah kotaku? Seperti inikah keadaan kota kelahiranku sekarang?” Usiknya dalam hati.

Siang itu cuaca sedang panasnya, dengan terik matahari yang dengan gagah menyengat para penghuni bumi, terutama para penghuni kota itu, kota kelahiran Affandi Syahid. Sekujur tubuh Affandi Syahid telah basah akan cucuran keringat, tanpa membuang banyak waktu dia bergegas pergi berjalan kaki dari tempat pemberhentian bis di dekat perempatan kota. Affandi Syahid berjalan dengan tergesa-gesa menuju terminal kendaraan umum yang akan membawa ke kampung halamannya dari pusat kota.

Di terminal, Affandi Syahid tidak diberi kesempatan sedikitpun untuk beristirahat. Para calo kendaraan umum dan para kondektur memburu dan menawarinya untuk naik kedalam mobil mereka, kondisi itu bukan hal yang asing lagi bagi Affandi Syahid, karena semua itu sudah dia alami bertahun-tahun, terutama ketika masih duduk di Sekolah Menegah Atas (SMA), maka tanpa basa basi dia menuruti permintaan seorang kondektur muda yang berumur setara dengan umurnya sendiri, naiklah Affandi Syahid kedalam mobil angkutan yang mesinnya sudah lama di hidupkan tersebut.

Affandi Syahid bukan penumpang pertama di dalam mobil bercatkan warna merah tersebut, didalamnya sudah sesak dipenuhi para penumpang lainnya, dari mulai anak-anak sekolah, para buruh pabrik sampai orang-orang yang dia tidak tahu maksud dan tujuannya. Hanya mereka yang tahu, tidak dan bukan siapapun, kecuali mereka dari tuhan.

Anak sekolahan yang berseragam putih abu yang berada di samping tempat duduknya mengingatkan dia kemasa dimana dia dan seragam sekolahnya dimasa lalu, maap sekitar delapan bulan yang lalu, karena Affandi Syahid belum lama menjadi seorang mahasiswa, dan belum cukup lama meninggalkan bangku sekolahan yang tidak memberi kesempatan untuk berkreasi dan berpendapat itu, semuanya masih dibawah keotoriteran para guru dan kepala sekolah yang layaknya penguasa yang memegang penuh segala hal di sekolahan.

Berbeda dengan apa yang Affandi Syahid alami dibangku universitasnya yang memberi kebebasan untuk berargumen, tapi namanya kebebasan tentunya ada batasan-batasan yang harus diperhatikan, dan Affandi Syahid tahu akan hal itu. Namun, setidaknya hal itu telah membuka alam pikirannya dan lebih terbuka lagi untuk melihat realita yang ada, dan kali ini yang dia saksikan adalah kebobrokan di kota kelahirannya yang dipimpin oleh penguasa-penguasa ketamakan yang lebih senang mengurus diri sendiri daripada masyarakatnya, padahal pimpinan tersebut adalah putra daerah pertama yang memimpin kota yang terkenal dengan pertaniannya tersebut, putra daerah.

Sebelumnya kota kelahiran Affandi Syahid selalu dipimpin oleh orang-orang dari luar, tapi yang dirasakan, orang-orang dari luar itu lebih baik daripada putra daerah sendiri seperti yang sekarang memimpin.

Mobil angkutan umum telah penuh dengan penumpangnya, para calo dan kondekturpun gembira calo-calo terminal yang hidup sebagai parasit yang menggerogoti kantong-kantong para sopir terminal. Budaya parasit yang tidak hanya ada di terminal tapi juga seluruh pelosok dinegeri ini, kecuali di gedung rakyat yang lebih nyaman dari terminal, disana tidak ada pengacau dan suasananya sangat begitu damai, sehingga orang-orang didalamnya dapat tertidur dengan pulas tanpa beban yang menghantui mimpi-mimpi mereka yang tidak ada habisnya. Affandi Syahid duduk di belakang sang sopir yang umurnya tidak jauh berbeda dengan bapaknya sendiri.

Dengan posisi duduk seperti itu, Affandi Syahid dapat dengan leluasa melihat pemandangan kiri kanan jalanan didepannya. Mobil angkutan umum pun melaju meninggalkan terminal mulai menapaki jalan menuju rumah Affandi Syahid. Di dalam perjalanan Affandi Syahid mendapatkan berbagai bentuk ketidak nyamanan.

Pertama, ketenangannya terusik dengan guncangan-guncangan di dalam mobil yang diakibatkan oleh banyaknya kubangan dan tidak mulusnya permukaan jalan yang dilalui, tambalan-tambalan aspal yang ditata seenaknya membuat permukaan jalan bergelombang.

Kedua, hilangnya sebagian pohon-pohon rindang di sepanjang jalan yang mengakibatkan hawa panas dengan gagahnya menusuk kedalam mobil, gerah tentu saja di alami oleh Affandi Syahid dan penumpang-penumpang lainnya.

“Gila!! Kok tambah hancur saja nih jalan,” gumannya pelan kepada seorang lelaki tua yang duduk disampingnya.

“Iya, Bupati dan pemerintah kota kita tidak memperhatikan kondisi ini, dia lebih suka dengan menata daerah tempat tinggalnya sendiri, lihat saja di daerah sekitar rumahnya anda tidak akan mendapatkan jalan yang serusak ini!” Jawab lelaki tua berkacamata tersebut tanpa ragu.

“Benar pak, dia lebih senang menata kampungnya sendiri dan terlalu banyak bermain dengan proyek yang mubadzir,” timpal Affandi Syahid tidak mau kalah mengometari Bupati di kota kelahirannya, Bupati yang tadinya dibanggakan oleh masyarakat karena merupakan putra daerah pertama yang memimpin kota yang dilengkapi dengan daerah pegunungan dan pantai tersebut, kota kelahiran Affandi Syahid.

Mobilpun terus melaju, sekali-sekali berhenti karena ada penumpang yang hendak turun. Affandi Syahid dan lelaki tua berkacamata disampingnya masih membisu mengamati pemandangan yang mereka lalui. Perjalanan Affandi Syahid menuju kampungnya mencapai jarak 20 Km dari pusat kota, sepanjang jalan tampak di kiri kanan daerah pesawahan yang telah gundul sehabis dipanen, setelahnya baru tampak perkampungan yang tidak begitu panjang dan tidak lama tampak lagi daerah pesawahan, demikianlah seterusnya sampai mobil angkutan umum tersebut sampai di terminal kampung halamannya.

“kiri-kiri…” Lelaki tua berkacamata disamping Affandi Syahid berteriak memberi aba-aba kepada sopir, dan mobil pun berhenti. Lelaki tua berkacamata turun dari mobil disebuah kampung dan tak lupa menyapa terlebih dahulu kepada Affandi Syahid, mobil kembali berjalan setelah lelaki tua berkacamata turun dan berlalu dari pengamatan Affandi Syahid.

Satu jam berlalu, mobil angkutan umum berhenti di terminal kampung halaman Affandi Syahid. Setibanya di sana Affandi Syahid kembali diburu, namun yang kali ini bukan oleh para calo ataupun preman terminal, melainkan tukang ojek motor dan juga tukang becak yang menawarinya untuk diantarkan ke rumahnya, rumah Affandi Syahid yang letaknya tidak jauh dari terminal tua tersebut. Banyak dari para tukang ojek motor dan becak yang tidak ragu memanggil-manggil namanya, mereka masih mengenali Affandi Syahid yang merupakan langganan mereka ketika Affandi Syahid masih berseragam sekolah.

“Naik becak saya, deh…!!” katanya saat itu juga, dan dengan tergesa-gesa dia persilahkan seorang tukang becak untuk membawanya menuju kerumahnya.


Deni Andriana
Karawang, 14 April 2004

WANITA MISTERIUS DI HALTE BIS

|


Dengan rasa sesak aku pergi dari rumahku malam itu, entah kemana tujuan yang hendak aku capai, aku tidak tahu. Yang ada dibenakku, itulah yang aku ikuti dan semua dahaga yang telah merenggut hari-hariku harus aku tuntaskan malam itu juga. Aku berangkat dari rumah sekitar pukul 21.00 WIB, hingga berada di pusat kota ketika waktu aku dapati telah menunjukan pukul 21.30 malam.

Aku terus bergerak, dan semuanya kuserahkan pada kata hatiku. Kemanapun aku melangkah dan bergerak, disitu pula semakin aku dapatkan keasinganku dikota kelahiranku sendiri malam itu.

Berbagai fenomena kutemui malam itu, hal yang biasa, tapi tidak salahnya bila ku sebut dengan fenomena. Fenomena di malam hari, malam di kotaku.

Pedagang-pedagang malam, tempat hiburan, bunga-bunga malam yang berkeliaran mencari mangsanya, membuat suasana menjadi ramai dan semakin hidup. Keramaian tersebut menjadi tambah meriah dengan berlalu lalangnya berbagai jenis kendaraan yang melintasi jalan raya kota. Dipinggiran jalan, nampak berderet becak-becak yang sedang menunggu penumpangnya. Di setiap sudut, terlihat sekumpulan anak muda yang tengah melepas jiwa kebebasannya. Jiwa-jiwa yang di selimuti prahara, jiwa-jiwa yang di butakan oleh jaman, prahara jaman. Lampu-lampu kota menyuguhkan warna tersendiri bagi suasana malam itu, suasana yang sungguh indah untuk ku lupakan. Hembus dingin angina, seakan menjadi lagu kedamaian yang menghiasi kotaku, kota kelahiranku di malam hari.

Satu persatu orang yang kutemui beranjak pergi dari keramaian malam itu, mungkin mereka pulang kerumahnya untuk menyiapkan hari esok, pikirku. Atau, ada hal yang lain yang hendak mereka lakukan, entahlah. Semua itu hanya mereka yang tahu, tidak dan bukan siapapun kecuali mereka dan Tuhan.

Seiring berlalunya keramaian malam dari pandangku, maka kuputuskan untuk tetap berada disana. Walaupun suasananya berubah menjadi sepi, sunyi sepi hanya aku dan gemerlap lampu-lampu kota, diiringi dengan satu atau dua kendaraan yang melintas di jalanan yang sudah semakin hening. Aku nikmati kesunyian malam itu. Saat itu, aku mampaatkan untuk berdialog dengan lusuhnya kotaku. Kami : aku dan kesunyian malam, membicarakan sesuatu yang hanya kami yang tahu, tidak dan bukan siapapun, kecuali kami dan Tuhan.

Aku masih berjalan menapaki sisi trotoar jalanan, dengan sisa semangat yang aku punya, dan dengan langkah yang mulai melemah. Hingga disuatu sudut jalan yang aku telusuri, aku melihat sesosok tubuh tertunduk lesu diatas kursi halte bis.

Dalam hati, aku sempat tercengang menyaksikan pemandangan yang ganjil tersebut. “Siapa itu?” Tanyaku dalam hati. Memang aneh, karena sosok asing itu duduk sendirian di halte bis yang begitu sepi, padahal setahuku malam itu tidak akan ada bis yang berhenti disana, karena memang tidak ada bis jurusan manapun yang melewati kotaku di tengah malam, kecuali jika waktu sudah menunjukan pukul 04.00 dini hari, sedangkan saat itu jam ditanganku baru menunjukan pukul 00.30 tengah malam.

Di sekitar tempat itu, halte bis, tidak ada siapapun selain dia dan aku yang berada cukup jauh dari tempatnya. Aku dapat memastikan, bahwa dia sendiri tidak tahu akan keberadaanku yang sedang mengamatinya. Namun, walaupun jarak antara aku dengan kehadiran sesosok tubuh itu jauh, aku dapat memastikan bahwa dia adalah seorang wanita, hal itu terlihat dari rambut panjangnya yang tergerai lurus dan lekukan tubuhnya yang sensual. Tapi, siapa dia? Menjadi misteri yang menyelimuti hatiku saat itu.

“Apa dia seorang penjaja seks, gembel atau bahkan dia adalah sesosok hantu yang hendak menyapaku?” Tanyaku dalam hati.

“Tidak, dia bukan seorang gembel. Penampilan dan pakaiannya tidak menunjukan kesan bahwa dia seorang gembel, atau dia memang hantu?” Timpal pandangan hatiku yang lain ikut meramaikan perdebatan dalam diriku.

“Kalau memang dia hantu, apakah aku harus takut?! Tidak.. aku tidak boleh takut, dan aku harus mencari tahu siapa sebenarnya wanita itu!” Hati kecilku memenangkan perdebatan dalam diriku itu. Dan, tanpa kusadari aku sudah semakin dekat dengan tempat wanita misterius itu berada.

Saat itu, tubuhku sudah benar-benar berada di dekat wanita yang tertunduk lesu itu. Dan, aku masih belum dapat memastikan tentang siapa dia sebenarnya, rambut panjangnya seakan menyembunyikannya dariku, hingga seluruh raut mukanya tenggelam dari pandanganku.

Aku tambah penasaran, dan kuberanikan untuk bertanya kepada kesendiriannya. “Selamat malam Mbak! Ada yang bisa saya bantu?” Tanyaku mengungkap rasa penasaran yang semakin mendalam.

Wanita itu bertubuh sintal dengan pakaiannya yang sensual, ditambah dengan warna kulitnya yang putih membalut kedua belah betis hingga paha yang menyeruak dibalik rok mininya. Ya Allah, apa aku telah berbuat dosa dengan melihat pemandangan sensasional itu? Apalagi aku dengan tidak sengaja melihat bagian buah dadanya yang mulus dan menengadah menantang udara, diantara belahan yang terlihat disela-sela kaos ketatnya.

“Mbak! Sedang ngapain sendirian di tempat ini?” Aku kembali bertanya kepada wanita seksi itu. Aku semakin penasaran, karena dari tadi belum melihat wajahnya, yang seakan tidak mau untuk dia tampakan kepadaku. Padahal, aku yakin dia sudah tahu akan keberadaanku di depannya, rambut yang tergerai lurus itu masih menyembunyikannya dariku.

Tidak lama setelah pertanyaanku yang kedua meluncur, tiba-tiba wanita itu mengangkat wajahnya. Dan, aku sungguh terpesona ketika melihat paras wajahnya yang begitu sempurna dengan bibir merahnya yang lembut, lesung pipi yang penuh dengan cahaya kewanitaan, hidung mancung ditambah dengan alis yang tertata indah menyempurnakan pesona dari kedua bola matanya yang jernih. Wanita itu sangat cantik, bahkan dapat kupastikan kecantikannya melebihi Tamara Blezinky atau Dian Sastro sekalipun.

“Selamat malam, Mas!” Wanita itu balas menyapaku dengan disertai sehelai senyumannya yang membuat malam terasa kembali cerah bagiku. Wanita itu masih muda dan benar-benar memiliki aura yang begitu mempesona.

“Maaf Mbak, kalau boleh tahu sedang ngapain sendirian disini?” Tanyaku menghangatkan suasana.

“Eh.. perkenalkan dulu,” ucapku sambil menyebutkan namaku. Aku sebut saja namaku Marco, nama samaran yang aku ambil dari nama Marco Pollo, seorang pengembara dari daratan Spanyol. Aku juga seorang pengembara saat itu, pengembara malam, malam dikotaku.

“Oh.. nama saya Rini, pasti anda penasaran kenapa saya berada sendirian di tempat sepi seperti ini, ya!?” Ucapnya seakan dia sudah tahu apa yang ada dibenakku tentang keberadaannya.

“Saya lagi malas tinggal dirumah, rumah yang membosankan. Di sana tidak ada yang bisa diajak bicara, semuanya hanya diam dan membisu..” Tambahnya, tambah Rini wanita cantik dihalte bis.

“Memangnya Mbak tinggal dimana?” Timpalku tambah penasaran.

“Jangan panggil aku Mbak dong!! Panggil aja Rini, toh umur kita tidak beda jauh. Saya tinggal diperumahan di ujung jalan ini.” Jawabnya sambil menunjukan kearah jalan yang membentang di depan kami berdua, aku dan Rini.

“Apa kamu tidak dimarahi oleh orang tuamu, keluar tengah malam seperti ini?” Aku kembali bertanya dan dia pun kembali menjawab.

“Saya tinggal sendirian disana, dirumah yang sunyi. Kalau Marco mau, saya dengan senang hati akan mengajak kerumah.”

“Oh.. terima kasih, saya tidak mau merepotkan,” ucapku yang sebenarnya sangat bertentangan dengan hasrat hatiku saat itu. Kalau dipikir dengan akal kelelakianku, memang sangat bodoh bagiku telah menolak ajakan seorang wanita cantik yang mengajak bertandang kerumahnya malam-malam, apa lagi disana dia hanya tinggal sendirian. Namun, tanpa kusadari kalimat penolakan tersebut spontan terucap dari kedua belah bibirku, entah dengan dorongan apa, hingga kata-kata tersebut meluncur dengan lantangnya.

“Kenapa, takut?” Tanya Rini kepadaku, seolah menguji pendirianku.

“Tidak, tapi saya lebih senang disini, karena disini kita dapat menikmati suasana kota yang begitu murni tanpa rongrongan orang-orang yang setiap hari mengotorinya,” jawabku meyakinkan wanita berpakaian serba merah itu.

“Rin, kamu masih sekolah, atau sudah kerja?” Tanyaku kembali menghidupkan suasana.

“Saya sudah tidak sekolah lagi, saya juga malas untuk bekerja, karena dengan bekerja kita hanya menjadi budak dari kesenangan orang lain. Saya lebih senang hidup bebas tanpa suatu ikatan, hidup ini sangat membosankan,” ucapnya sambil kembali melemparkan senyum manisnya padaku.

“Kenapa kamu berkata seperti itu? Memangnya apa salah hidup ini, hingga kamu berani menghakiminya??” Tanyaku hendak mengungkap dan menelusuri jati diri Rini.

“Aku sudah dikecewakan oleh hidup ini, aku sudah tidak merasa berharga lagi hidup di dunia ini. Sudahlah… lebih baik kamu jangan tanya lagi tentang itu!” Ucapnya dengan nada sedikit meninggi.

Kami berdua sempat terdiam cukup lama, dan tanpa kusadari tubuhnya sudah melekat dengan tubuhku dan kurasakan sesuatu telah tumbuh dari diriku. Entah dengan dorongan apa, hingga aku tidak mampu untuk menolak ketika kedua belah bibirnya menelanjangi bibirku dengan ciuman mesra yang membuat alam sadarku mati.

Aku terlena dalam dekapan Rini, di halte bis, dipinggir jalan raya yang sepi, tidak ada seorang pun yang melihat cumbu rayu diantara kami berdua. Kemesraan janggal itu semakin liar ketika tubuh kami sudah begitu melekat dan saling raba, tanpa ada yang meminta dan tanpa ada yang diminta. Wangi nafas Rini membuat aku tambah liar malam itu, hingga aku terlena dalam pelukan Rini.

Aku tersentak dan sungguh merasa asing ketika aku melihat jalan raya di depanku sudah ramai dengan berlalu lalangnya kendaraan yang semakin padat. Rasa kagetku semakin bertambah, ketika jam ditanganku sudah menunjukan pukul 05.00 pagi, dan aku mendapatkan diriku tertunduk lesu di halte bis, sendirian.

”Kemana Rini??” Tanyaku dalam hati. “Apakah aku telah bermimpi?” Aku masih bertanya-tanya ketika fajar pagi menyambut kotaku.

Sempat terlintas dalam pikiranku, bahwa wanita yang semalam ku temui dan bercumbu denganku itu adalah sesosok hantu nakal, hantu cantik yang bernama Rini. Namun, ketika tanganku meraba-raba ke samping kursi halte bis, disampingku ku dapatkan sepucuk surat yang bertuliskan nama Rini diatasnya, diatas selembar kertas tanpa amplop, surat itu ku temukan ditempat Rini duduk semalam.

Rasa gelisahku menjadi sedikit terkendali, setelah ku baca apa yang tertulis di atas kertas putih itu. Disana tertulis permintaan terima kasih dari Rini kepadaku, karena aku telah menemaninya tadi malam, dan dia meyakinkan dalam suratnya, agar aku tidak berburuk sangka terhadapnya.

“Aku bukan pelacur, aku juga bukan hantu. Aku juga manusia seperti kamu, namun hidup ini bersikap beda kepada kita. Seperti kamu, aku juga sangat membutuhkan teman dalam hidup ini, teman untuk berbagi dan teman untuk …” Tidak ada lagi lanjutan dari bait terakhir surat dari Rini tersebut, dibawahnya bertandakan sebuah bekas lipstik Rini yang menempel dan sengaja dibubuhkan untuk melengkapi suratnya.

Dengan misteri yang terus menyelimuti, aku pulang kerumah pagi itu. Sungguh suatu pengalaman yang luar biasa telah aku dapatkan dari malam itu, malam yang sepi dikotaku, malam bersama Rini wanita misterius.

Deni Andriana
Karawang, Selasa 13 April 2004

PELUIT JALANAN

|


“Priiit… priiit… prittt..”

Jeritan peluit menghangatkan suasana siang itu, siang yang tidak begitu ramah. Siang di saat gerimis tengah mempecundangi gagahnya sang mentari. Ketika awan hitam pun tidak segan untuk menggurui bumi, Dan dimana kegelapan waktu hinggapi kehidupan siang itu. Dipertigaan jalan, pertigaan Dayang Sumbi, Sabuga Bandung.

“Priiit… priiit… prittt..” Kembali peluit itu menjerit membelah suasana, dimana singgasana pelangi menghiasi muka langit yang biru, seiring dengan berlalunya tangis langit memandikan bumi. Dedaunan kembali berseri manghidupi nafas alam, hijau. Masih hijau alam ini. Mentari pun kembali tampakan kuasanya.

“Priiit… priiit… prittt..”

Peluit itu kembali di tiupkan oleh Mumu dilapangannya. Bukan, bukan lapangan sepak bola, Dia bukan wasit, bukan pula aparat. Dia, Mumu dengan baju lengan panjang warna birunya, sebiru kedamaian yang dia berikan. Dia, Mumu dengan celana warna hitamnya, sehitam penderitaa yang harus di tanggungnya. Dia, Mumu dengan topi warna merahnya, semerah semangat yang menggelora dalam dirinya. Dia, Mumu dengan sepatu warna putihnya, seputih cinta dalam relung hatinya. Dia adalah Mumu pria setengah baya yang bertubuh gempal dengan peluit yang setia menempel di mulutnya. Peluit yang menghidupi dirinya, peluit yang menafkahi keluarganya, peluit karunia Tuhan. Dia adalah Mumu yang berhati keras, tapi sangat mengutuk kekerasan. Dia adalah Mumu yang tampangnya menyeramkan, tapi tidak mau menakut-nakuti. Dia adalah Mumu sang polisi cepe’. Mumu seorang pak ogah. Mumu yang menggantungkan hidupnya dipertigaan jalan, pertigaan Dayang Sumbi, Sabuga Bandung.

“Terima kasih… !!” Seraya berkata setelah memperoleh sebiji koin uang recehan dari seorang pengenudi yang melintasinya siang itu. Siang dimana geminis membasahi, dan di saat mentari mengeringkan bajunya.

Mumu meniupkan peluitnya, stop kanan stop kiri. Bukan, dia bukan sedang menjegal, karena dia bukan penodong, bukan maling. Siang itu dia sedang mengatur arus lalu lintas di lahan kehidupannya, di pertigaan Dayang sumbi yang selama tiga tahun telah menjadi lapangan kerja baginya. Pertigaan Dayang sumbi dimana mobil pribadi, truk-truk perusahaan, kendaraan umum maupun sepeda motor berhilir mudik di sana. Dengan tiga arah yang bersinggungan, membuat para pengendara harus berhati-hati melintasi daerah pertigaan tersebut, yang dapat mengakibatkan terjadinya bentrokan ataupun tabrakan. Dan Mumu di sana mencoba mengaturnya, tidak ada yang menugaskan dia di tempat itu, karena dia bukan aparat kepolisian yang lebih nyaman nangkring di posnya, dia hanya buruh jalanan. Orang banyak menyebutnya dengan sebutan polisi cepe’ karena jasanya yang identik di hargai dengan koin uang cepe’an (Rp 100,-) oleh para pengemudi. Atau, adapula yang memanggilnya dengan panggilan pak ogah. Ya, Pak Ogah adalah tokoh dalam serial Si Unyil yang selalu meminta di beri imbalan dengan uang cepe’an dalam setiap melakukan pekerjaannya.

Mumu, di pertigaan Dayang Sumbi tersebut tidak meraih rezeki sendirian, Dadan dan Jengkol (nama panggilan) merupakan teman satu perjuangannya, teman baik dalam suka maupun duka. Mereka bertiga yang mengatur lalu lintas di sana, sambil berharap para pengemudi yang mereka bantu menyebrang memberikan imbalan, cuma berharap, dan akan terus berharap. Setiap satu jam sekali, mereka bergantian mencari nafkah di tengah jalan pertigaan tersebut dengan peluitnya masing-masing.

Mumu yang pada hari itu datang terlambat, mendapatkan giliran ketiga, setelah Dadan dan Jengkol mendapatkan satu jamnya. Mumu terpaksa datang telat karena sebelumnya dia harus pergi dulu ke kantor pos untuk mengirimkan uang hasil tabungannya kepada keluarga yang tinggal di Sukabumi. Tentunya, uang yang dikirimkannya itu bukanlah setumpuk uang recehan yang dia dapatkan setiap harinya. Uang Recehan tersebut terlebih dulu di tukarkannya sebelum akhirnya dia gunakan jasa wesel pos untuk mengirimkan kehidupan bagi kelurganya. Walaupun jauh dari matanya, namun dia selalu merasakan kehadiran mereka yang selalu dekat di dalam hatinya. Hati Mumu seorang polisi cepe’. Hati Mumu yang tetap dekat dengan isteri dan kedua anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

Selain mengirimkan uang, Mumu juga menuliskan sepucuk surat kepada isterinya tercinta :

Kepada, Rokayah Isteriku
Di Sukabumi

Asalamualaikum..

Salam cinta untukmu dan anak-anak kita,

Waktu berlalu seiring dengan berjalannya roda kehidupan, rakyat kecil hanya dapat tersenyum menikmati mimpi-mimpi semunya, yang mesti di tebus dengan derita dan air mata yang seharusnya tidak dirasakan ditengah pembangunan bangsa ini.

Isteriku tercinta, jangan katakan kepada anak-anak kita bahwa bapaknya adalah seorang buruh yang kesehariannya bergumul dengan debu di jalanan demi setumpuk uang recehan untuk memberi sesuap nasi bagi kalian semua, isteri dan anak-anakku. Jangan katakan itu pada mereka, wahai isteriku tercinta. Biarkan mereka tegar merajut masa depan dengan buku pelajarannya, biarkan mereka menjadi orang yang berguna bagi bangsa ini.

Wahai isteri yang selalu menerangi langkahku, bila mereka menanyakan tentang pekerjaanku, katakan bahwa aku bukanlah pencari kekuasaan, katakan aku bukan pemburu tahta dan jabatan. Aku hanya bekerja dengan doa, doa dari kalian semua.

Wahai isteri yang telah membakar semangatku, di sini di kota ini, banyak yang menganggap aku sebagai sampah, dan tidak sedikit yang mengatakan aku layaknya duri yang mengotori jalanan. Tapi, mereka tidak pernah bertanya mengapa aku rela disebut sampah dan duri di jalanan.

Wahai isteri pelipur laraku, hanya engkau dan Tuhan yang tahu tentang diriku, doakanlah suamimu ini agar selalu mampu untuk menafkahi kalian.
Wahai Isteriku… Wahai bidadari jiwaku, tetaplah berdoa untukku !!

Sekian

Wassalam

Mumu





Deni Andriana
Tamansari, Bandung - 4 April 2004

UDIN YANG TERLUKA

|

“Tet-tet-tet-tet…”

Bunyi klakson kendaraan mengisi sepanjang jalan Merdeka Bandung, pada siang itu benar-benar sedang dilanda kemacetan yang fatal, akibat tidak adanya ketertiban dari para pengemudi yang melintasi jalan di daerah keramaian dan pusat perbelanjaan tersebut. Di kanan-kiri para pedagang kaki lima berjubel memenuhi tiap sudut pinggiran jalan menjajakan dagangannya.

Sekitar pulul 13.30 WIB, Udin seorang mahasiswa fakulttas ilmu komunikasi unisba melintasi pemandangan sesak tersebut, disela-sela kericuhan suasana siang itu, dibenak Udin terpendam berjuta beban dan problem, entah problem apa yang dia bawa ke tempat keramaian tersebut? Raut mukanya menggambarkan seakan dia ingin memakan setiap orang yang di temuinya. Sekali-kali Udin menggerutu pelan mengomentari kemacetan dan kesemerawutan jalan yang di saksikannya.

“Kalau dijalan saja tidak mau tertib, bagaimana mau tertib di gedung MPR.”

Di tengah-tengah perjalanan, Udin dikejutkan dengan berhentinya sebuah sedan mewah bercatkan warna merah muda persis di hadapannya, entah bagaimana prosesnya, sampai-sampai sedan tersebut berhenti didepan Udin, dari dalam terdengar suara perempuan dengan nada tingginya.

“Mau mati loe?!”

Tanpa menghiraukan suara tadi, Udin bergegas melanjutkan langkahnya menyebrangi jalan merdeka menuju BIP (Bandung Indah Plaza) yang menjadi tujuan dia setelah pulang dari perkuliahannya di kampus Unisba Tamansari. Mengenang kejadian yang hampir merenggut nyawanya tadi, Udin hanya dapat menggerutu dalam hati, dia bertanya-tanya mengapa orang tersebut tidak mau mengakui kesalahannya? Padahal nyata-nyata dia yang salah telah mengemudikan kendaraan dengan kecepatan tinggi di daerah keramaian dan ketika ada orang yang hendak menyebrang, padahal telah memberikan aba-aba jauh sebelumnya.

Sepuluh menit kemudian, Udin telah berada dilantai pertama BIP, dia berjalan tidak tentu arah layaknya anak ayam kehilangan induknya. Sambil memainkam kerah bajunya Udin melirik kekanan-kiri mengamati pemandangan di dalam BIP, tidak terasa dia sudah berada dilantai empat dan tepat berada di depan bioskop, dia mengamati poster-poster yang menampilkan film yang beredar di bioskop tersebut. Pada suatu sudut, Udin terpaku mengamati sebuah poster yang menampilkan film yang berjudul 30 hari mencari cinta, dari belakang terdengar..

“Asyik juga ya, film itu!?”

Merasa ketenangannya terusik, Udin langsung memburu sumber suara yang mengagetkannya itu, setelah melihat bahwa yang bersuara tadi seorang gadis cantik yang berusia ± 2 tahun dibawah umurnya yang sudah menginjak 20 tahun, Udin langsung pergi dari tempat itu dan menuju sudut yang lain, sedangkan gadis yang merasa dicuekkan tersebut hanya menggerutu kecil.

“Sombong amat sih.. baru jadi rakyat aja, bagaimana kalau dia jadi pejabat?”

Disudut lain di depan bioskop, Udin mendapatkan kabar lewat sms bahwa pacarnya yang dia tunggu dari tadi ternyata tidak bisa datang dan nonton film bersamanya, dengan alasan sedang sakit, dengan perasaan kesal dan kekecewaan yang mendalam Udin beranjak meninggalkan bioskop tersebut dan pergi keluar BIP. Saat itu Udin teringat bahwa dia sedang membutuhkan sebuah buku untuk keperluan kuliahnya, maka dengan langkah yang tegap dia menuju Gramedia yang berada di seberang jalan merdeka, persis di serong kiri depan gedung BIP.

Didalam Gramedia lantai dua, Udin kesulitan mencari buku yang hendak dibelinya, hal itu membuat pikirannya tambah rumit. Setelah ditanyakan ternyata buku yang sedang dicarinya itu telah habis terjual dan baru akan keluar lagi bulan depan. Untuk mengatasi kekecewaannya Udin memilih untuk melihat buku-buku lain yang sebenarnya tidak hendak dibeli.

Disela-sela sibuknya Udin mengamati buku-buku di depannya, pada suatu sudut dia melihat seorang gadis yang rambutnya tergerai lurus dengan tinggi badan tidak begitu pendek juga bukan termasuk ukuran tinggi, di tambah bodi yang super aduhai sedang bergandengan mesra dengan seorang lelaki yang sudah berumur, namun berpenampilan sangat rapi dengan jas dan dasinya. Perasaan kesal yang dari tadi dipendam kini benar-benar berada dipuncaknya dan jantung yang selama ± 1 jam berdetak sangat cepat, seakan hendak berontak untuk keluar menembus dada. Ternyata gadis belia tersebut adalah Mila kekasihnya sendiri yang sudah 5 bulan dipacarinya, alasan sakit yang menyebabkan tidak bisa nonton bersamanya ternyata hanyalah bohong belaka, Mila di depan mata kepalanya sendiri berani bergandengan mesra dengan pria lain, dan yang membuat hati Udin tambah hancur tidak lain karena pria tersebut sudah berumur tua dan seumuran dengan ayahnya sendiri.

Terlintas dalam otaknya pada saat memergoki penghianatan cinta tersebut, Udin ingin segera memburu pacar dan lelaki tuanya itu, namun ada kekuatan besar dibalik relung hatinya yang membuat Udin tidak mampu untuk berbuat apa-apa, selain diam memandang kosong kearah prahara asmara di depannya. Kini, dugaan dan kabar burung dari teman-temannya, tentang Mila yang suka main dengan bapak-bapak berkantung tebal adalah benar dan matanya sendiri yang telah memberi bukti pada siang itu.

Tidak lama, tanpa sepengetahuan Udin pasangan penghancur hati tersebut lenyap seketika dari ruang lantai dua gramedia, padahal ketika itu mata Udin tidak lepas mengamati gerak-gerik mereka berdua, hal ini diakibatkan oleh semakin kosong dan hampanya jiwa pikiran Udin menyaksikan kemesraan diantara mereka, sehingga tanpa disadari telah pergi tanpa sepengetahuan alam sadarnya. Dan yang tertinggal hanyalah Udin dan buku-buku Gramedia yang berada disekitarnya, dia tetap termenung, membatu seiring api cemburu yang membakar hati dan meracuni jiwanya.

Deni Andriana
Tamansari, Bandung
Jum’at, 20 Februari 2004

SUARA- SUARA PENDERITAAN

| Jul 30, 2007

Suatu hari, di sebuah kampung diadakan acara bakti sosial. Diketahui, kampung berpenduduk 150 jiwa tersebut sedang dilanda kelaparan, pasca terjadinya bencana longsor dua bulan sebelumnya. Cibatu adalah nama kampung tersebut.

Kurangnya bahan makanan, terutama makanan yang bergizi dan memenuhi standar kesehatan, menyebabkan sebuah lembaga kesehatan masyarakat dari kota menyelenggarakan acara makan bersama.

Dalam acara yang disambut hangat oleh para penduduk tersebut, dihadiri pula oleh para pejabat aparatur pemerintah kota (pemda) yang dipimpin langsung oleh bapak bupatinya sendiri.

Dalam kegiatan amal tersebut direncanakan akan adanya acara makan bersama antara para pejabat dengan para penduduk Cibatu.

Panitia acara yang berasal dari LKM Sari Alam (Lembaga Kesehatan Masyarakat), memberikan tema : “Kepedulian Pemerintah Terhadap Rakyat Miskin” pada acara yang dananya memang bersumber dari pemerintah kota itu, seperti yang diungkapkan oleh Bapak Bupati ketika memberikan sambutannya pada saat pembukaan acara tersebut, menurutnya acara sosial tersebut adalah sebagai upaya pemerintah untuk menyejahterakan masyarakat yang kurang mampu dan sekaligus menyantuni fakir miskin yang berada di kampung Cibatu.

Acara yang dilangsungkan sehari penuh tersebut, selain diisi dengan acara makan bersama, juga akan dilanjutkan dengan pembagian bahan makanan, baju-baju bekas serta keperluan rumah tangga lainnya kepada penduduk Cibatu oleh pihak panitia dan pemerintah kota.

“Makan…..makan…..”

Begitulah suara riuh penduduk Cibatu menyambut acara makan bersama tersebut. Sepintas suara-suara riuh tersebut kedengarannya memang biasa, namun sangat luar biasa jika yang berteriak adalah sekumpulan manusia yang baru melihat makanan enak dan bergizi, setelah sekian lama menderita kelaparan akibat kurangnya bahan makanan di kampung dengan pesona alam yang menyejukan mata tersebut.

Cibatu merupakan sebuah perkampungan yang letaknya berada di kaki gunung, suasana kampung yang sangat asri dan alami dengan gemercikan suara air sungai yang jernih mengalir damai melintasi sisi-sisi rumah penduduknya. Namun, karena letaknya yang jauh dari pusat kota, menyebabkan bahan makanan sulit untuk di dapat oleh para penduduk. Penduduk hanya hidup bergantung pada karunia alam yang terkadang bersikap tidak ramah kepada mereka, seperti halnya bencana longsor yang telah merusak lahan pertanian dan peternakan- peternakan mereka. Bencana longsor tersebut, diketahui sebagai akibat dari perbuatan-perbuatan orang kota, yang tanpa dosa mengeksploitasi dan menebang pohon-pohon di hutan yang berada disekitar kampung mereka, sehingga mengakibatkan banyaknya hutan yang gundul dan ketika musim hujan tiba, tanah-tanah pegunungan mejadi longsor terkikis derasnya air hujan yang sebetulnya dapat di tahan oleh pohon-pohon di sekitar hutan tersebut.

Acara makan bersama, di laksanakan di rumah salah satu penduduk. Dengan halamannya yang cukup luas, maka tempatnya sangat cocok karena sanggup untuk menampung penduduk Cibatu dan para tamu undangan dari pemerintah kota yang rencananya datang secara rombongan mengenakan bis Pemda.

“Kami persilahkan Bapak Bupati serta Bapak dan Ibu dari Pemda, untuk menikmati lebih dulu hidangan yang telah disediakan!” Ucap pembawa acara menghangatkan suasana dimana acara makan bersama hendak dimulai.

Dimeja hidangan tampak berbagai menu makanan yang berjejer rapi mengikuti rangkaian meja, dari mulai lauk-pauk, sayur-sayuran hingga buah-buahan segar menjadi pemandangan indah yang membuat para penduduk merasa tidak nyaman menyaksikannya. Pada waktu itu, para penduduk harus menahan dulu dahaga yang dirasakan dan menunggu tibanya giliran mereka untuk menikmati hidangan tersebut, setelah Bapak Bupati dan aparatur pemda selesai menikmati makannya.

”Hai…kami kapan makannya??” Celetuk salah seorang penduduk dari kerumunan penduduk lainnya, tidak diketahui dari sebelah mana suara tersebut berasal, akibat suara tidak bersumber jelas tersebut, para penduduk yang berjejer rapih dipelataran rumah beralaskan tanah, mulai mengeluarkan celetukan-celetukan yang tidak jelas.

“Tenang…tenang…!! Bapak-bapak, ibu-ibu sekalian, terlebih dahulu kita beri kesempatan kepada Bapak Bupati serta Bapak dan Ibu dari Pemda untuk menikmati makannya, setelah mereka selesai baru kalian semua mendapatkan giliran”, ujar pembawa acara menimpali suara riuh penduduk.

“Saya harap semuanya bisa tertib, kita harus menghormati Bapak Bupati dan para aparatur Pemda yang telah jauh-jauh datang kesini”, tambah seorang pemimpin aparat keamanan menenangkan keadaan.

Para penduduk hanya dapat diam setia setelah mendengar ucapan pihak panitia dan aparat keamanan tersebut. Dengan penuh harapan, mereka menyaksikan Bapak Bupati dan aparatnya menikmati hidangan di meja makan yang ditata rapi didepan mereka, didepan para penduduk Cibatu.

Meja hidangan pun berubah seketika, yang tadinya ditata kecil, kini berubah menjadi lebih luas dan besar dengan makanan yang tambah banyak pula, namun menu dan kualitas makanannya jauh berbeda dengan yang dinikmati Bapak Bupati dan aparatnya.

“Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian, Kami telah menyiapkan hidangan untuk anda semua di meja ini, dan nanti pada waktunya anda semua baru boleh mengambilnya, tapi semuanya harus tertib. Sebelumnya, kita tunggu dulu sampai Bapak Bupati dan Bapak serta Ibu dari Pemda menyelesaikan makannya.” Jelas pembawa acara, sambil menunjukan meja hidangan tersebut kepada para penduduk yang mulai kelihatan lelah, tak sedikit yang mengipas-ngipaskan handuk dan kertas ketubuh mereka yang kepanasan. Mendengar ucapan pembawa acara tersebut, para penduduk mulai bergairah dan menata kembali duduknya diatas pelataran halaman rumah dengan rapi, bagaikan barisan tentara yang akan dianugerahi medali.

Waktu terus berputar, matahari mulai menyuguhkan panasnya. Bapak Bupati dan para stafnya masih bersantai-santai dimeja makan, ada yang berbincang-bincang, ada yang asyik merokok bahkan tidak sedikit yang masih menikmati hidangan, termasuk Bapak Bupati yang sibuk mencicipi buah-buahan segar yang penuh menutupi meja makannya.

Namun, suasana tenang tersebut tidak berlangsung lama, keadaan berubah menjadi kacau dengan berhamburannya para penduduk menyerbu ke meja makan tempat hidangan mereka disiapkan. Bahkan, ada pula yang berlompatan mengambil makanan di meja Bupati dan staf-stafnya. Entah siapa yang memulai, hingga suasana acara menjadi tidak terkendali walaupun pembawa acara berteriak-teriak meminta agar para penduduk kembali tertib, namun tidak ada satupun yang menghiraukannya. Para penduduk dengan sibuknya berebut dan menjarah makanan, bagaikan sekawanan harimau Afrika yang memperebutkan mangsanya.

Menyaksikan insiden penjarahan makanan oleh penduduk tersebut, Bapak Bupati dan para stafnya berlarian meninggalkan tempat mereka semula, berharap agar para penduduk yang rusuh tidak mengotori baju apalagi sampai melukai mereka. Dengan dikawal oleh aparat keamanan, satu persatu para pejabat rakyat tersebut diamankan kedalam bus.

Sedangkan, suasana disekitar meja makan tambah rusuh, meja makanan yang tadinya dihiasi dengan hidangan-hidangan kini menjadi terbalik dan tidak sedikit makanan yang tumpah ruah di lantai. Bapak Bupati dan para pejabat Pemda tanpa menghiraukan keadaan penduduk, segera meninggalkan lokasi acara dengan bus dan kembali menuju kota.

Para penduduk di halaman rumah tempat acara, berubah menjadi panik, dengan mengudaranya beberapa buah peluru yang ditembakan para aparat keamanan kemuka langit. Mendengar tembakan peringatan tersebut, para penduduk tidak ada satupun yang berani berdiri, semuanya tiarap di lantai, menyatu dengan tanah. Sedangkan, pihak keamanan masih sibuk menertibkan penduduk yang berhamburan diberbagai sudut, mereka semua dikumpulkan dipusat halaman.

”Kalian ini, sudah kami kasihani masih juga tidak tahu diri,” ujar salah seorang panitia memarahi penduduk yang telah merusak acara makan bersama tersebut.

”Memalukan, kalian telah membuat kami malu sebagai pihak panitia, bagaimana nanti tanggapan Bapak Bupati dan para staf Pemda terhadap acara ini, lihat makanan dan meja-meja itu!” Ujar ketua panitia sambil menunjuk kearah makanan dan meja-meja yang berserakan kepada para penduduk.

“Kalian pikir semua itu tidak dibeli, kami telah sediakan semua itu untuk kalian, tapi mengapa kalian sendiri yang mengacaukannya?” Tambah ketua panitia berwajah garang tersebut, seakan ingin menumpahkan semua kekesalannya.

“Kami kesini bukan untuk menjadi penonton, bukan untuk melihat pertunjukan Bupati sedang makan. Kami datang kesini karena kami diundang oleh kalian untuk makan, jadi kami tidak suka mereka memperolok-olok kami dengan jabatannya, dan asal Anda tahu perut kami ini telah lama kosong, jadi kami tidak tahan jika harus menunggu terlalu lama, dan asal Anda semua juga tahu bahwa kamilah yang membutuhkan makanan, bukan mereka, orang-orang kota yang setiap harinya makan makanan yang enak,” ujar seorang pemuda dengan keberaniannya maju kehadapan ketua panitia dan kumpulan panitia lainnya. Namun, dengan sigapnya pihak keamanan menangkap pemuda pemberani tersebut dan dengan membabi buta memukulinya dengan tongkat pengaman.

“Sudah…sudah!!” lerai salah seorang pihak panitia melerai insiden pemukulan tersebut dan mengembalikan si pemuda nekad tersebut kekumpulan penduduk lainnya.

“Berhubung acaranya sudah tidak bisa dilanjutkan lagi, maka kami minta agar saudara-saudara sekalian kembali ke rumah masing-masing dan kami akan berlaku tegas bila ada yang menentang lagi!!” Tegas pembawa acara dengan nada tingginya kepada para penduduk. Mendapatkan perlakuan seperti itu, para penduduk tidak bisa berbuat apa-apa, mereka hanya menuruti perintah sang pembawa acara.

Satu persatu para penduduk meninggalkan acara yang hanya jadi mimpi mereka dimalam hari tersebut. Dan, kini yang tertinggal disitu hanya sekumpulan panitia dan pihak keamanan beserta pemilik rumah. Namun, yang mengejutkan mereka semua adalah kehadiran seorang kakek berpakaian serba gelap dengan peci hitam yang menutupi rambut putihnya, masih berdiri ditempat itu, kumis dan jenggotnya yang berwarna putih menampakkan umurnya yang sudah tua, namun perawakannya masih kekar dengan tinggi tubuh layaknya seorang pemain basket NBA. Raut muka yang sangar dan disertai dengan tatapan mata yang tajam membuatnya kelihatan gagah dan berwibawa.

“Hai…orang tua, kenapa kamu masih berdiri disitu, apakah kamu tidak mendengar apa yang tadi kami telah perintahkan?” Tanya seorang pemimpin keamanan mengecam keberadaan sang kakek yang berdiri tegar didepannya, dan menatap tajam kearah para panitia.

“Rupanya dia tuli?!” Timpal seorang panitia acara dengan senyumnya yang mengejek.

”Jangan-jangan selain tuli, dia juga bisu. Ha… ha…” Tambah salah seorang anggota keamanan, diikuti dengan tawa seluruh panitia dan anggota keamanan lainnya.

“Aku rasa, dia telah sakit jiwa, tidak waras..” Ujar pembawa acara memanaskan suasana dan seakan tidak mau ketinggalan untuk memperolok si kakek pemberani tersebut. Kakek yang dihina malah semakin tajam menatapi orang-orang didepannya.

“Aku memang tuli, aku juga tidak mampu untuk bicara, benar apa yang kalian bilang aku sudah gila. Tapi walaupun tuli, aku masih mampu untuk mendengar jeritan-jeritan orang kelaparan yang hanya mengharapkan sesuap nasi untuk menambal derita mereka. Kalian bilang aku bisu, ya…aku memang bisu, tapi kebisuanku tidak akan aku berikan untuk orang-orang yang telah menginjak-injak harga diri orang kecil yang tidak berani bicara di depan kalian, kalian memang orang-orang hebat, sehingga mereka takut sama kalian semua, tapi itu tidak berlaku bagiku. Aku juga orang gila, tapi walaupun aku gila, aku masih punya perasaan dan bisa merasakan kesengsaraan orang kecil.” Ujar kakek tersebut dengan lantang kearah sekumpulan panitia dan aparat keamanan didepannya. Kata-katanya sudah menembus kebalik dada dan membakar darah sekumpulan orang kota tersebut.

“Diam kamu!! Hentikan dakwahmu itu, memang kamu ini siapa? berani-beraninya menceramahi kami, pergi dari sini sebelum kami usir kamu dengan paksa!!” Ujar pimpinan keamanan menghajar ucapan si kakek yang membuat mukanya memerah, bagaikan desiran ombak api yang melahap pulau bali.

“Kalian hanya anak-anak ketamakan yang tidak punya sopan santun terhadap orang tua, sekarang kalian berani bicara seperti itu, dengan pangkat-pangkat yang layaknya Tuhan yang kalian sembah dan agung-agungkan. Apakah kalian berani, masuk kedalam sarang maut dan mengorbankan seragam bahkan nyawa kalian untuk kemerdekaan bangsa ini? Tidak … kalian tentu tidak berani melakukan itu, melakukan apa yang aku berani lakukan ketika bendera merah putihku di injak-injak oleh penjajah, dan sampai sekarang aku masih berani menghadapi orang yang masih menginjak rakyat miskin yang sudah kuanggap benderaku sendiri, bendera bangsa ini. Bendera bangsa ini, kalian tahu!? Warna merah putih bendera kita adalah kesucian hati orang-orang miskin dan merah berlumuran darah rakyat kecil.” Kakek tersebut menghentikan ucapannya, seakan dia sedang larut ke alam masa lalu dimana bangsa ini sedang ditindas dan diinjak-injak kaum penjajah, kakek tersebut memandangi orang-orang didepannya yang membisu bagaikan anak burung yang sedang diajari terbang oleh induknya.

Lalu dia melanjutkan, “ingat, wahai anak-anak muda! Aku dan para leluhur kalian telah susah payah memerdekakan bangsa ini dengan darah dan air mata kami, bersyukurlah …!! Aku dan leluhur kalian tidak rela kalau kalian sebagai penerus-penerus kami, malah menjadi penjajah baru yang mengotori bumi ini dengan ambisi-ambisi pribadi kalian. Penjajah-penjajah yang kami benci dan penjajah-penjajah yang membakar masa depan kami.”

Demikian kakek tua tersebut memberikan petuahnya, setelah itu dia melangkah pergi meninggalkan kerumunan panitia dan aparat keamanan yang masih termenung, kepergian sikakek seakan tidak mereka sadari.

Kakek telah lenyap seketika dari tempat acara, entah disembunyikan oleh awan hitam, atau bumi yang menelannya yang pasti tidak ada yang tahu kemana dia pergi. Dan, yang tertinggal hanyalah sekumpulan panitia dan aparat keamanan yang tetap diam seakan petuah dari si kakek mengantarkan jiwa-jiwa mereka kealam ilusi dan membelenggunya disana. Sedangkan, isak tangis pemilik rumah tempat acara menjadi lagu penutup dari derita-derita orang-orang miskin hari itu. Orang miskin yang kelaparan, yang tidak sempat menikmati makanan yang enak dengan lidah-lidah penderitaannya.

Deni Andriana

Ciburial, Bandung - 15 Maret 2004, dilanjutkan

Tamansari, Bandung - 26 Maret dan 3 April 2004